Bukalapak Melakukan Pengurangan Karyawan, Ini Tanggapan dari INDEF

Bhima mengatakan, modal ventura atau investor yang menyuntik dana ke e-commerce memiliki keterbatasan.

Bukalapak Melakukan Pengurangan Karyawan, Ini Tanggapan dari INDEF
freepik
Ilustrasi 

Dia khawatir bila investor Bukalapak tidak kuat lagi menghadapi persaingan promo diskon besar-besaran, hal itu akan berujung pada tutupnya Bukalapak. 

Hal tersebut pernah terjadi di bidang transportasi online, di mana dari yang tadinya ada 10 perusahaan, kini tersisa dua perusahaan saja. 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, khawatir keterbatasan modal akan membawa Bukalapak berujung pada tutup lapak.

Hal itu merespons Bukalapak yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal karyawannya.

"Bagian yang justru di-PHK, ada di customer service. Idealnya, semakin penjualan naik, CS-nya ditambah, bukan malah di-PHK," kata Bhima baru-baru ini.

Bisnis Ritel Masih Bisa Tumbuh Hingga Akhir Tahun

Bhima mengatakan, modal ventura atau investor yang menyuntik dana ke e-commerce memiliki keterbatasan.

Apalagi, sejumlah negara asal investasi dari Amerika Serikat, Eropa, Jepang, China sekarang ini sedang mewaspadai resesi ekonomi global.

"Pastinya akan berpengaruh pada suntikan modal yang disalurkan ke Indonesia. Entah secara langsung ke Bulalapak," katanya.

Dia khawatir bila investor Bukalapak tidak kuat lagi menghadapi persaingan promo diskon besar-besaran, hal itu akan berujung pada tutupnya Bukalapak. 

Merchant di E-Commerce Mulai Dikenakan Bayaran, Berikut Penjelasan dari idEA

"Dalam kasus Bukalapak, ini ada kekhawatiran ke sana. Ada kekhawatiran, pada ujungnya kalau investornya sudah tidak kuat menyuntik modal, maka dia akan merger atau akan dijual ke perusahaan e-commerce yang lebih besar," kata Bhima.

Hal tersebut pernah terjadi di bidang transportasi online, di mana dari yang tadinya ada 10 perusahaan, kini tersisa dua perusahaan saja. 

"Jangan sampai nanti kasusnya seperti Uber di Indonesia, akhirnya harus merger dengan perusahaan online lain yang lebih besar," katanya.

Ujung-ujungnya, kata Bima, the winner takes all. Jadi, yang bisa bertahan adalah pemilik modal terkuat.

"Nanti ujungnya e-commerce ini diperkirakan akan hanya satu, dua  pemain besar yang bisa bertahan, yang lain akan diakusisi atau merger alias tutup," katanya.

Di sisi lain, secara makro, Bhima melihat seluruh pemain ritel, baik online maupun konvensional terkena dampak dari  pelemahan konsumsi akibat penurunan daya beli, khususnya di kelas menengah.

Berikut Pergerakan Harga Emas dari Pagi Hingga Sore Hari

Editor: Aloysius Sunu D
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved