Minggu, 19 April 2026

Waspada, Penipuan Iklan di Indonesia Masih Besar

Pemilik brand juga harus waspada dengan maraknya penipuan iklan yang berakibat pada hilangnya pendapatan brand tersebut.

thinkstockphotos
Ilustrasi. Pemilik brand juga harus waspada dengan maraknya penipuan iklan yang berakibat pada hilangnya pendapatan brand tersebut. 

Akibatnya, miliaran dollar AS terpaksa dipertaruhkan dan hal ini membuat para pemilik brand harus menjadi lebih waspada.

Lebih lanjut, whitepaper ini juga mengungkapkan bahwa para pengiklan diperkirakan akan kehilangan 42 miliar dollar AS dari pengeluaran iklan secara global pada tahun 2019, karena masalah yang berfokus pada penipuan iklan.

WARTA KOTA, PALMERAH--- Meningkatnya pengguna smartphone dan internet di Indonesia membuat berbagai industri masuk ke era digital.

Seperti industri periklanan misalnya.

Saat ini, sudah banyak brand atau merek di dunia, termasuk Indonesia, yang menggunakan pola pemasaran produknya berbasis digital.

Pola seperti ini memang menguntungkan brand lantaran dapat menjangkau konsumen dengan luas dan cepat.

Pasar Saham dan Uang Bergejolak, Bagaimana Cari Reksadana yang Tepat?

Meski demikian, pemilik brand juga harus waspada dengan maraknya penipuan iklan yang berakibat pada hilangnya pendapatan brand tersebut.

Berdasarkan whitepaper yang diterbitkan Mobile Marketing Association (MMA) yang bertajuk “Fraud Brand Safety & Viewability Whitepaper”, diungkapkan penipuan iklan di via smartphone kini menjadi semakin canggih dan sulit dideteksi.

Akibatnya, miliaran dollar AS terpaksa dipertaruhkan dan hal ini membuat para pemilik brand harus menjadi lebih waspada.

Lebih lanjut, whitepaper ini juga mengungkapkan bahwa para pengiklan diperkirakan akan kehilangan 42 miliar dollar AS dari pengeluaran iklan secara global pada tahun 2019, karena masalah yang berfokus pada penipuan iklan.

Penjelasan soal Aturan Blokir IMEI yang Akan Diterbitkan Bulan Ini

Di Asia Pasifik, diperkirakan 17 juta hilang yang di mana ini merupakan dampak keseharian dari penipuan iklan.

Terkait dengan penipuan iklan, Indonesia sendiri memiliki posisi sebagai negara terbesar kedua di Asia Pasifik yang mengalami masalah ini.

Diketahui, Indonesia merupakan target para penipu periklanan karena skala dan volume pembelanjaan iklan yang signifikan.

Di Tanah Air, industri yang menjadi target akan hal ini adalah para pengguna terbesar dalam pemasaran digital dan seluler.

Industri-industri yang ditargetkan termasuk e-commerce, Teknologi Finansial (fintech), FMCG, dan sektor gim.

Saham MNCN Lebih Menarik Dikoleksi Dibanding SCMA

Shanti Tolani, Country Manager Mobile Marketing Association Indonesia, mengatakan, berdasarkan survei kami pada Q1 2019, di Indonesia 33 persen pemasar masih rendah pengertiannya terhadap tingkat penipuan periklanan untuk pembelanjaan iklan mereka.

“Pengetahuan tentang sistem monitoring dari cara brand mereka ditayangkan di media dan bagaimana penayangan tersebut diukur masih rendah,” kata Shanti, Kamis (08/08/2019).

Dengan demikian, kata Shanti, ada kebutuhan untuk meningkatkan transparansi dari mitra media mereka.

Hal ini menjadi penting bagi masing-masing pemangku kepentingan pada ekosistem ini untuk mengedukasi dan terus berusaha mengatasi isu tersebut.

“Di situlah MMA memberikan kontribusi pada industri periklanan. Terkait penipuan iklan dan brand safety, Indonesia baru saja memulai perjalanannya,” kata Shanti.

Ingin Kompresi Database? Coba Pakai Layanan Perusahaan Rintisan Ini

Hemant Bakshi, CEO/Presiden Direktur PT Unilever Indonesia, mengatakan, kredibilitas iklan online masih menjadi masalah global dan industri saat ini.

Menurut Hemant, kurangnya transparansi adalah masalah bagi brand dan konsumen, karena hal itu merusak kepercayaan dan mendistorsi dampak yang terjadi.

“Penelitian menunjukkan bahwa click fraud menghasilkan laba lebih dari USD20 juta per bulan untuk mereka yang terlibat, dan para bot ini dapat mencapai hingga 90 persen dari jumlah click pada kampanye periklanan,” kata Hemant.

Herman mengatakan, perusahaan besar harus lebih bisa mengontrol dan meningkatkan visibilitas tempat mereka beriklan

Termasuk melakukan upaya nyata untuk mengatasi masalah ini agar bisa mendapatkan lebih banyak kepercayaan konsumen.

Melalui transparansi yang lebih tinggi dari para media, penggunaan waktu dan uang yang lebih efektif, dan pengalaman online yang lebih baik untuk semua orang.

“Pada akhirnya, semua pengiklan harus memiliki tujuan untuk menciptakan pengalaman yang lebih positif bagi para konsumen online,” kata Hemant.

Perang Mata Uang, Mata Uang Mana yang Diuntungkan? Penjelasan Analisis Valas

Berita ini sudah diunggah di Info Komputer dengan judul Merugikan Brand, Penipuan Iklan yang Terjadi di Indonesia Masih Besar

Sumber: Info Komputer
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved