Rabu, 29 April 2026

Kolom Trias Kuncahyono

Kisah Maximus di Colloseum

Tepuk tangan dan teriakan-teriakan itu seakan masih bergema, dan tertangkap telinga ketika kami berdiri sekitar dua meter dari Colosseum.

Editor: AchmadSubechi
www.triaskun.id
Colloseum (Trias Kuncahyono) 

Dan, amphiteater serta pertunjukan yang dilakukan di tempat itu, seperti gladiator, mengadu orang dengan binatang, dan juga eksekusi hukuman terhadap para pelaku tindak kriminal, menjadi simbol klasik budaya Romawi.

Akan tetapi, pertarungan gladiator adalah pertarungan yang, barangkali, paling kejam yang pernah ada di Bumi ini.

Bahkan, ada yang menyebutkan sebagai tontonan paling biadab. Meskipun, ada yang menyebutnya sebagai bagian dari budaya Romawi.

Dikatakan paling tak bermoral, paling kejam, dan paling biadab karena pertarungan itu diakhiri setelah ada yang mati.

Inilah pertarungan hidup-mati antara manusia dan manusia, antara manusia dan binatang, dan antara orang bebas dan terhukum. Tetapi ada catatan yang menyebut pertandingan tidak harus diakhiri dengan kematian.

Terlepas dari semua itu, adalah tidak mudah dan tidak ringan menjadi gladiator itu. Seorang gladiator harus memiliki determinasi, kebulatan tekad untuk fokus pada segenap usaha dan energi pada misi tertentu.

Dia juga harus mengabdikan dirinya sebulat hati demi tercapai serta terwujudnya misi.

Determinasi terjadi bila ada will power, kekuatan kehendak untuk menuntaskan, menyelesaikan misi sesulit dan seberat apa pun rintangan yang dihadapi.

Maximus, misalnya, bisa mengalahkan Commudus, karena ia meskipun harus menjadi gladiator, menjadi orang tidak bebas tetapi fokus pada usahnya untuk melenyapkan seorang pemimpin tiran, seorang pemimpin yang telah menumpas habis keluarganya, seorang pemimpin yang hanya memetingkan dirinya sendiri.

Tentu apa yang pernah disampaikan Proximo, si bekas Gladiator yang sekaligus menjadi Tuannya Maximus, demikian merasuk dalam pikiran dan tindakannya, termasuk di dalam arena collosseum.

Proximo selalu mengatakan, curi hati penonton, “win the heart of the crowd”, adalah kuncinya.

Bagaimana caranya agar publik Roma menyukainya, mencintai dan mengidolakannya. Ia harus bersikap ksatria, tidak curang, tidak menuduh orang lain curang, tidak menebar fitnah, kalau kalau mengaku kalah.

Barangkali, nasihat Proximo, lelaki berkulit hitam juragan gladiator itu perlu dicatat siapa pun untuk berhasil dalam usahanya: rebutlah hati rakyat!

Sebab, demikian kata Charles de Montesquieu (1689-1755) filsuf dan politikus Perancis, “Agar menjadi benar-benar hebat, seseorang harus berdiri dengan rakyat, dengan masyarakat, bukan di atas mereka.”

Maximus tidak hanya berpihak pada rakyat, tetapi dia adalah rakyat. Walau sebelumnya adalah seorang jenderal, bagian dari elite kekaisaran, tetapi rela dihinakan, dijadikan budak.

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved