Kolom Trias Kuncahyono
Kisah Maximus di Colloseum
Tepuk tangan dan teriakan-teriakan itu seakan masih bergema, dan tertangkap telinga ketika kami berdiri sekitar dua meter dari Colosseum.
Karena itu, Shiv Khera dalam bukunya You Can Win (1998) menulis “Winning is an event, and winner is a spirit”.
Khera mengajak orang untuk memiliki watak seorang pemenang, daripada sekadar memiliki peristiwa kemenangan.
Mengapa? Sebab, bila obsesi terhadap kemenangan itu berlebihan maka orang akan terjerumus masuk ke dalam sikap dan bertindak menang-menangan.
Tidak semua orang berani dan memiliki mental sebagai pemenang. Maka itu, Imam al-Ghazali (1058-1111) tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf mengatakan, keberanian itu termasuk salah satu keutamaan yang menjadi pangkal kebaikan dan kemenangan.
Bukankah, tidak ada keberhasilan tanpa keberanian. Sebab, keberhasilan hanyalah milik orang-orang yang berani.
Tentu, dalam hal ini yang utama dan pertama adalah keberanian untuk mengambil keputusan, dan membela serta mempertahankan yang diyakini sebagai kebenaran, sebesar apa pun risikonya yang harus dihadapi.
***
Kisah gladiator (yang difilmkan pada tahun 2000) itu, membuka jendela masa lalu Imperium Romanum, Kekaisaran Romawi.
Colloseum juga disebut Amphiteater Flavian, karena pembangunannya dimulai oleh Kaisar Vespasian (69-79) yang nama aslinya Titus Flavius Vespasianus.
Ia digantikan oleh Kaisar Titus (79-81) yang melanjutkan pembangunan amphiteater, dan diselesaikan oleh Kaisar Domitian (82-96).
Colloseum itu menjadi saksi sejarahnya. Sejarah kebesaran Romawi. Sejarah perlakuan tidak manusiawi terjadi.
Colosseum bukan sekadar tempat olah raga; bukan sekadar tempat para gladiator diadu dengan binatang atau dengan sesama gladiator; juga buka sekadar tempat para penjahat dieksekusi.
Tetapi, colosseum adalah wujud dari gerakan politik Kaisar Vespasian.
Gerakan politik luar biasa, yang diawali oleh Vespasian itu untuk membangun kembali kebesaran Kekaisaran Romawi setelah kebangkrutan zaman Kaisar Nero, kaisar yang membakar Roma.
Setelah Colosseum di Roma, yang menampung 50.000 penonton dibangun, lalu dibangunlah 250 colosseum atau amphiteater di seluruh Kekaisaran Romawi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/trias-kuncahyono.jpg)