Kolom Trias Kuncahyono
Kisah Maximus di Colloseum
Tepuk tangan dan teriakan-teriakan itu seakan masih bergema, dan tertangkap telinga ketika kami berdiri sekitar dua meter dari Colosseum.
Disaksikan puluhan ribu pasang mata, Maximus Decimus Meridius, jenderal besar yang terpaksa menjadi gladiator, mengakhiri hidup Commodus, kaisar muda yang ambisius, berwatak jahat, dengki, iri, dan penuh dendam kesumat dalam hatinya.
Commodus tewas di tengah amphiteater. Sebilah belati menembus dadanya. Senjata makan tuan. Belati itu milik Commodus yang semula ditusukkan ke arah dada Maximus.
Namun, Maximus yang sarat pengalaman dalam pertarungan mampu menangkap tangan Commodus, dan memuntir tangan berbelati itu ke arah dada Commodus… dan berakhirlah sudah pertarungan penuh balas dendam dan kebencian itu.
Kematian, mengakhiri dendam. Kematian melenyapkan dengki dan iri. Kematian mengalahkan kejahatan. Tetapi sekaligus kematian mengantar Maximus ke keabadian, hidup baru bersama istri dan anaknya yang telah dilenyapkan kaki tangan Commodus.
Maximus mati karena luka-luka di lambung hasil kecurangan Commodus sebelum pertarungan dimulai.
Tetapi, para penonton pertarungan itu, mayoritas rakyat jelata, memberikan tepuk tangan membahana dan teriakan-teriakan pujian pada Maximus: “Maximus…. Maximus… Maximus…”
Mereka merasa lega bahwa kaisar yang penuh kedengkian itu diakhiri hidupnya.
Tepuk tangan dan teriakan-teriakan itu seakan masih bergema, dan tertangkap telinga ketika kami berdiri sekitar dua meter dari Colosseum di tengah Kota Roma, siang itu.
Padahal, peristiwa itu sudah terjadi hampir dua ribu tahun silam. Jarak waktu yang demikian jauh itu terasa begitu dekat.
Ketika itu, kisah Maximus hidup lagi. Sudah jamak dalam kehidupan, seperti dikatakan oleh Napoleon Bonaparte (1769-1821) bahwa “Sejarah ditulis oleh para pemenang.” Yang kalah? Ya, harus menerima kenyataan, akan dilupakan.
Kemenangan hanya bisa diraih kalau seseorang memiliki ilmu, keterampilan tinggi, visi yang tinggi dan jauh ke depan, keyakinan yang kuat bahwa yang dicita-citakan akan terwujud, keberanian untuk mewujudkan cita-cita itu, dan mental serta karakter sebagai pemenang.
Semua itu dimiliki Maximus. Sebagai seorang jenderal, ia memiliki ilmu dan keterampilan bertarung. Ia memiliki juga visi jauh ke depan untuk apa menginginkan kemenangan.
Maximus mempunyai keyakinan kuat bahwa dengan keterampilan dan pengetahuan, cita-citanya bisa diwujudkan, serta berani menghadapi segala tantangan untuk mewujudkan cita-citanya itu: menyingkirkan Commodus, menjadi manusia bebas.
Dan, Maximus yang sudah malang melintang di medan tempur memiliki mental dan karakter sebagai pemenang. Mental sesorang pemenang adalah menjadi pelaku profesional bukan sekadar penonton untuk merealisasikan cita-citanya.
Yang lebih penting lagi, mental seorang pemenang adalah menang tanpa ngasorake. Meskipun menang tetapi lebih mengutamakan rendah hati dan tidak berlaku sombong, sok adigang, adigung, adiguna, menyombongkan diri karena mempunyai kekuatan, kekuasaan, kekayaan, dan kepandaian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/trias-kuncahyono.jpg)