Selasa, 7 April 2026

Nelayan Pulau Seribu Butuh Garam Murah

Bukan karena perairan ataupun cuaca yang tidak bersahabat, langkanya garam justru menjadi persoalan utama para nelayan saat ini.

WARTA KOTA, PALMERAH - Perasaan bingung bercampur resah tengah dirasakan para nelayan Kepulauan Seribu.

Bukan karena perairan ataupun cuaca yang tidak bersahabat, langkanya garam justru menjadi persoalan utama para nelayan saat ini.

Kenyataan pahit itu seperti yang dirasakan Iqbal, nelayan Pulau Panggang, Kabupaten Kepulauan Seribu. Di tengah melimpahnya ikan tongkol di perairan Kepulauan Seribu Selatan, dirinya maupun rekan sesama nelayan justru merugi.

Baca: Alami Gempa Saat Berada di Lantai Sembilan, Haji Lulung Sarankan Anies Baswedan Lakukan Hal Ini

Hal tersebut karena langkanya garam yang berbarengan dengan datangnya musim ikan tongkol dalam sepekan terakhir. Sehingga, seluruh ikan hasil tangkapan terpaksa dijual murah lantaran tidak dapat diawetkan.

"Sekarang ini di selatan (perairan Kepulauan Seribu Selatan) lagi musim bingsawan (ikan tongkol), tapi tetap aja kita enggak bisa ambil banyak (keuntungan). Soalnya garam langka, jadi semuanya harus langsung dijual, dan itu butuh es yang juga harganya mahal," ungkapnya saat dihubungi, Senin (5/2/2018).

Tidak ingin kehilangan kesempatan, alternatif pengawetan ikan pun dilakukan dengan teknik pengasapan. Namun, pengasapan kembali diurungkannya karena dinilai lebih mahal ketimbang menjual ikan segar langsung ke pengepul di Pasar Ikan Muara Angke, Pluit, Jakarta Utara.

Baca: Pemasok Sabu Jennifer Dunn Sempat Minta Bantuan Orang Pintar Agar Tak Ditangkap Polisi

"Sudah dicoba bikin ikan asap, tapi tetap aja lebih mahal, malah rugi juga. Jadi musim ini enggak bisa diharapin, padahal musimnya (ikan tongkol) jarang, setahun dua kali," jelas Iqbal.

Perasaan serupa juga disampaikan nelayan sekaligus petani ikan asin Pulau Sebira, M Ali Kurniawan. Pria yang merupakan Ketua Lembaga Masyarakat Kota (LMK) Kelurahan Harapan itu berharap agar pemerintah dapat mendistribusikan garam secepatnya.

Sebab, tidak tersedianya pasokan garam, jelasnya, secara langsung menurunkan jumlah produksi ikan asin. Belum lagi ditambah banyaknya spekulan yang menjual garam dengan harga tinggi, sehingga semakin mempersulit para petani ikan asin saat ini.

Baca: Polisi Apresiasi Jennifer Dunn yang Jadi Religius Sejak Dipenjara

"Jangan muluk-muluk (pemerintah) kasih bantuan, kita yang nelayan ini cuma butuh garam, harganya juga harus murah. Kalau kondisinya kayak sekarang, gimana kita bisa usaha," tuturnya.

Kelangkaan garam nyatanya telah diantisipasi pemerintah pusat lewat pembukaan keran impor garam industri sebanyak 3,7 juta ton pada 2018. Namun, keputusan tersebut justru mendapat penolakan dari petambak garam asal Sumenep dan Sampang, Madura di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, beberapa hari lalu.

Mereka menilai impor garam ilegal. Dalam keterangannya, PT Mitra Tunggal Swakarsa selaku importir menilai tuduhan tersebut tidak tepat. Sebab, garam industri sebanyak 28.500 ton yang diimpor langsung dari Australia itu telah terdaftar dan memiliki izin resmi dari Kementerian Perdagangan.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved