Ritual Mistis Seblang yang Libatkan Roh Leluhur di Banyuwangi Jadi Daya Tarik Wisata
Ritual Seblang merupakan sarana untuk bersyukur kepada Tuhan, berkomunikasi kepada leluhur, dan menjaga kerukunan.
Penari itu selalu dikawal tiga orang pemaju. Penari akan berhenti menari setiap satu gending selesai dibawakan oleh para sinden dan pemusik.
Ritual itu digelar mulai pukul 13.30 hingga 16.30.
Sebelum prosesi ritual tujuh hari, digelar doa selamatan lengkap dengan sesajen. Doa bersama itu dilakukan pada malam sebelum ritual diselenggarakan.
"Kami juga melakukan selametan lengkap dengan sesajen pada malam hari sebelum pentas esok harinya. Pada hari ketujuh ada idher bumi membawa Seblang keliling kampung, berhenti di setiap pajopat atau sudut-sudut kampung. Seblang menari di setiap perempatan jalan dan empat penjuru desa," kata Ansori.
Menurut dia, ritual Seblang sudah dilakukan sejak 1930 sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Sejak itu pula, ritual ini menjadi acara wajib yang digelar setiap tahun.
Ritual Seblang Olehsari menyimpan nilai-nilai luhur yang terus dilestarikan warga Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.
Penentuan hari pelaksanaan ritual tak dilakukan lewat musyawarah desa.
Hari penyelenggaraan ditentukan melalui suatu proses kejiman (kerasukan roh leluhur) ke dalam diri seseorang.
Orang yang biasanya mengalami kejiman adalah Bu Atijah atau Bu Sumarmi.
Mereka adalah orang yang tinggal di luar Desa Olehsari.
Proses kejiman dipercaya sebagai petunjuk dari leluhur atas pelaksanaan Seblang.
Pemilihan penari pun dilakukan bersamaan dengan pemilihan hari.
Seorang penari Seblang yang terpilih biasanya merupakan anak perempuan usia Sekolah Dasar.
Syarat utama penari Seblang adalah berusia belia dan biasanya yang ditunjuk adalah keturunan dari penari Seblang pertama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/seblang_20180127_183539.jpg)