Cihuynya Gowes ke Baduy
Mengayuh sepeda ke Baduy bersama teman tak hanya menyehatkan raga, tapi juga jiwa kami.
Dengan pakaian sepeda yang masih basah kuyub, kami masuk ke warung nasi sederhana.
Tak ada pilihan menu mewah. Yang tersedia cuma oseng-oseng sayur terong dicampur jengkol plus tempe goreng dan ikan kembung goreng.
Rasa lapar agaknya menjadi bumbu paling sedap. Kami makan siang dengan lahap. Tawa dan canda membuat rasa lelah meluntur.
Tapi kami tak boleh berlama-lama. Pakaian yang basah akan membuat kami kedinginan kalau tak bergerak.
Kami meneruskan perjalanan menuju Jasinga.
Lewat cerita Max kami tahu bahwa letak kota kecamatan Jasinga seperti di dalam mangkok. Untuk mencapainya kami harus menuruni bukit dan begitu melewatinya, kami harus menanjak lagi.
Kali ini, tanjakannya lebih dahsyat dari yang sudah kami lewati.
Belum 15 menit kami mengayuh, hujan datang lagi.
Pakaian yang sebagian sudah mengering kembali basah. Tapi karena badan kami panas, tak sedikitpun rasa dingin terasa.
Kami lebih berkonsentrasi mengatur nafas dan kesabaran karena jalan yang naik turun seolah tiada berujung.
Satu teman lagi tumbang. Otot pahanya menegang, tak mau diajak kompromi.
Jauh sebelumnya, teman yang paling bersemangat melakukan persiapan sepeda sudah melempar handuk.
Rute Bogor-Baduy ini, memang bukan untuk pemula. Selain ketahanan otot, perlu penguasaan teknik bersepeda di tanjakan yang hanya mungkin didapat lewat latihan.
Selain itu, mengatur emosi agar tetap sabar mempertahankan cadence (irama) putaran pedal yang konstan adalah kunci menaklukkan tanjakan panjang.
Seringkali goweser kurang sabar, terburu-buru ingin melahap tanjakan sehingga kehabisan energi di tengah tanjakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/baduy_20171219_191010.jpg)