Cihuynya Gowes ke Baduy
Mengayuh sepeda ke Baduy bersama teman tak hanya menyehatkan raga, tapi juga jiwa kami.
WARTA KOTA, PALMERAH-Pernah mengenyam pendidikan bareng di SMA Kolese Gonzaga, para alumni yang gemar bersepeda dan tergabung dalam kelompok Gonzycling, melakukan kegiatan bersama. Kali ini, mereka mengayuh pedal dalam perjalanan light touring ke kampung masyarakat Baduy, di Lebak, Banten. Bersepeda termasuk kegiatan positif yang membangun kebersamaan, namun bersepeda turing memberikan banyak pengalaman lain dalam interaksi sosial dengan masyarakat lokal. Bukan saja menyehatkan, bersepeda turing juga membasuh jiwa. Sepenggal tulisan ini, menceritakan betapa indahnya Indonesia secara geografis maupun budaya.
PUKUL 10.40 WIB. Hujan lebat datang tiba-tiba di saat kami tengah bersusah payah mengatur nafas di tanjakan.
Konsentrasi untuk tetap waspada terhadap situasi jalan raya sambil mengatur persneling sepeda yang pas agar otot betis dan paha tidak kram, sejenak buyar.
Hari itu, Sabtu (16/12), kami mengayuh pedal menuju Terminal Ciboleger, pintu masuk menuju desa adat Baduy.
Dari 8 orang yang berencana pergi, 2 orang batal pada H-1. Jadilah kami ber-6 meneruskan rencana yang sudah diputuskan bulan lalu.
Kami beruntung karena salah satu anggota rombongan, Max Agung Pribadi –yang sudah katam gowes melanglang buana hingga ke Himalaya—bersedia menjadi guide perjalanan kali ini.
Saya hanya sempat berpandangan beberapa detik dengan Max ketika hujan turun. Hanya dari sorot mata, tanpa berkata-kata, kami sudah mengambil keputusan bersama.
Perjalanan tidak boleh terhenti karena hujan.
Dan jadilah kami tetap mengayuh pedal menembus hujan deras.
“Kapan lagi main sepeda hujan-hujanan ngga ada yang marahin,” kata saya menyemangati rombongan sambil tertawa.
“Yakin ngga sakit ini ya?” timpal anggota rombongan tertua, yang umurnya sudah kepala 5.
“Ngga, asal kita tetap gowes,” kata saya yakin di tengah hujan yang makin deras.
Tanjakan panjang
Kami terus bergerak, mendaki bukit. Jalan Leuwiliang sudah berada di belakang dan kami masuk daerah Leuwisadeng, menuju Jasinga.
Perut sudah mulai keroncongan karena kami cuma sarapan Lontong Doclang di gerobak pinggir jalan. Seiring dengan itu, hujan mereda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/baduy_20171219_191010.jpg)