Selasa, 12 Mei 2026

Komunitas Beta UFO

Inilah Para Pemburu Alien

Mereka percaya alam raya terlalu luas untuk hanya dihuni manusia.

Tayang:

Oleh Mawar Kusuma

WARTA KOTA, PALMERAH - Mereka percaya alam raya terlalu luas untuk hanya dihuni manusia. Laporan yang dikumpulkan dari para ”pelihat” menunjukkan sebaran penampakan benda melayang aneh di setiap wilayah di Indonesia. Benda-benda itu diyakini berasal dari planet lain.

Berawal dari rasa penasaran, anak-anak muda tersebut lalu bergabung dalam komunitas Beta-UFO, yang berdiri sejak 1997. Lewat investigasi lapangan, wawancara saksi, dan studi literatur, mereka aktif mendata serta mempelajari fenomena benda melayang misterius alias UFO.

Di antara derasnya fenomena UFO (Unidentified Flying Object) yang dilaporkan, anggota Beta-UFO yakin bahwa sebagian di antaranya layak dipercaya. Salah satunya adalah laporan pelukis Sudjana Kerton (almarhum). Dalam kesaksian yang dipajang di situs Beta-UFO, Kerton mengaku diculik UFO di Dago Pakar, Bandung.

Persentuhan Kerton dengan UFO diawali ketika ia bermukim di Denver, Amerika Serikat, pada 1953. Saat memandang ke arah langit dari sebuah taman, Kerton melihat benda berbentuk cerutu besar dengan banyak lampu berwarna hijau-kuning yang melayang diam sebelum kemudian melesat.

Begitu pulang ke Indonesia, Kerton lantas membangun rumah berbentuk mirip piring terbang di Perbukitan Dago Pakar, Bandung. Dari data yang dikumpulkan komunitas Beta-UFO, Bukit Dago memang menjadi salah satu titik dengan penampakan UFO terbanyak.

Suatu malam di Dago Pakar pada tahun 1979 atau 26 tahun setelah peristiwa di Denver, Kerton kembali melihat pesawat asing berwujud cakram. Kali ini, kesadarannya terhipnotis ketika ia merasa dibawa menuju pesawat dan berjumpa dengan empat alien berpakaian putih setinggi lebih dari 3 meter.

Makhluk itu diidentifikasikan mirip orang Mongol, bermata sipit, mulut sekadar garis tipis melintang, hidung tajam, dan kepala gundul. Begitu kesadarannya pulih, UFO itu telah lenyap. Di tanah pekarangan yang basah dan gembur tampak tapak-tapak bekas kaki makhluk asing.

Laporan terbaru, anggota Beta-UFO sedang menyelidiki cerita dari seorang petani di Gunung Kidul, DI Yogyakarta, yang juga melihat UFO. Sama seperti Kerton, petani sederhana ini mengaku telah diculik makhluk asing.

Dikira santet
Sebagian dari anggota Beta-UFO punya pengalaman persentuhan dengan benda melayang aneh. Danish Putra Wara (25) yang baru dua tahun bergabung dengan Beta-UFO pernah beberapa kali melihat benda misterius di langit.

Pengalaman memancing bersama kakek pada usia tujuh tahun menjadi peristiwa tak terlupakan bagi Danish. Menjelang petang, ia tiba-tiba melihat benda berbentuk seperti periuk nasi melayang di atas danau.

Benda itu melayang sebelum kemudian melesat kencang. Danish menyimpan kenangan itu selama belasan tahun hingga dewasa. ”Bentuknya gepeng. Awalnya saya anggap enggak penting. Tapi enggak mungkin kalau layang-layang. Kepikiran terus,” katanya.

Ketika ia membagi pengalaman masa kecil itu, beberapa teman menganggapnya aneh. Begitu bergabung dengan Beta-UFO, ia berjumpa dengan orang-orang dengan pengalaman serupa. Bersama sesama anggota komunitas, mereka mengkaji dan meneliti setiap peristiwa penampakan UFO.

Setelah lulus kuliah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, dan bekerja di sebuah peternakan, Danish kembali dikejutkan dengan kejadian mutilasi domba yang tak terjelaskan logika. Domba itu ditemukan terpotong sangat rapi tanpa organ tubuh bagian dalam.

Warga sekitar menyebut peristiwa itu sebagai santet, sedangkan profesor di tempatnya bekerja tak bisa menemukan penjelasan ilmiah. Danish sendiri menduga si domba telah menjadi korban makhluk asing.

”Saya orang yang kritis, skeptis, dan enggak gampang percaya. Perang batin antara benar UFO atau enggak. Sekarang agak percaya,” tambah Danish.

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved