Minggu, 3 Mei 2026

Warta Pendidikan

SMK Forward Nusantara Depok Perkuat Program Entrepreneur, Lulusannya Diincar Perusahaan 

Pramono menegaskan, pola pembelajaran di sekolahnya memang disusun untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia setelah lulus.

Tayang:
Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: Feryanto Hadi
Istimewa
SEKOLAH DEPOK - Kepala SMK Forward Nusantara, Danan Wuryanto Pramono memberikan piala penghargaan kepada siswa dengan produk wirausaha terbaik. (TribunnewsDepok.com/M Rifqi Ibnumasy) 

Ringkasan Berita:
  • SMK Forward Nusantara Depok memperkuat program entrepreneur dengan konsep BBM (Berwirausaha, Bekerja, Melanjutkan) untuk mencetak wirausahawan muda sejak dini.
  • Pembelajaran dipercepat: kelas 10–11 selesai materi lebih awal, sehingga kelas 12 fokus magang dan praktik kerja di industri.
  • Siswa dibina melalui inkubator bisnis, pelatihan digital marketing, live streaming, public speaking, serta pendampingan praktisi bisnis Aril Kurnia.
 
 

 

Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy 

WARTAKOTALIVE.COM, TAPOS - SMK Forward Nusantara Depok memperkuat program entrepreneur untuk mencetak para pengusaha muda.

Tak hanya itu, para siswa juga disiapkan untuk memiliki potensi sesuai kebutuhan dunia industri.  

Kepala SMK Forward Nusantara, Danan Wuryanto Pramono menegaskan, pola pembelajaran di sekolahnya memang disusun untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia setelah lulus.

Pramono menjelaskan, skema pembelajaran di SMK Forward Nusantara berbeda dari sekolah pada umumnya. 

Seluruh materi diselesaikan lebih awal, sehingga saat duduk di kelas 12 siswa fokus magang dan praktek kerja.

“Kelas 10 menyelesaikan materi kelas 10. Kelas 11 semester satu menuntaskan materi kelas 11, dan semester dua sudah menghabiskan materi kelas 12,” kata Pramono, Jumat (13/2/2026).

Baca juga: Raih Prestasi di World Robot Games Taiwan, STIP Jakarta Dorong Lompatan Teknologi Maritim 

“Jadi saat kelas 12, anak-anak benar-benar praktik di dunia kerja, menyelesaikan ujian dan membuat laporan,” sambungnya.

Dengan pola tersebut, sebagian besar siswa kelas 12 sudah berada di perusahaan untuk bekerja. 

Bahkan, menurutnya, permintaan magang dari industri kerap tidak mampu dipenuhi seluruhnya.

“Untuk pemagangan saja kami sudah kewalahan memenuhi permintaan. Hampir semua terserap. Anak yang tidak dimagangkan biasanya karena masalah kedisiplinan atau kemampuan yang memang masih kurang,” ungkapnya.

Pramono mengatakan, perubahan paradigma menjadi kunci. Jika sebelumnya SMK identik dengan konsep BMW (Bekerja, Melanjutkan, Berwirausaha), kini pihaknya mendorong konsep BBM (Berwirausaha, Bekerja, Melanjutkan).

“Titik sentralnya sekarang adalah berusaha dulu. Kami dorong anak-anak berani memulai usaha sejak awal. Bukan hanya teori, tapi benar-benar praktik,” tegasnya.

Sebagai bentuk keseriusan, sekolah menggandeng inkubator bisnis di Jakarta selama tiga bulan pertama pembinaan. Siswa mendapatkan pelatihan live streaming, public speaking, hingga strategi pemasaran digital.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved