ChatGPT Bisa Membaca Tarot, Tapi Bisakah Ia Membaca Manusia?
Namun, di balik kemudahan tersebut, Thiana melihat ada perbedaan mendasar antara pembacaan tarot oleh AI dan tarot reader manusia.
Untuk menggambarkan perbedaan tersebut, Thiana mengibaratkan AI sebagai seseorang yang membaca resep masakan, sementara tarot reader adalah seorang chef yang memahami kapan harus menambah atau mengurangi bumbu agar sesuai dengan kebutuhan.
Di sisi lain, ia memahami mengapa banyak anak muda kini lebih nyaman bertanya kepada AI dibanding manusia.
Menurutnya, AI menawarkan ruang yang terasa aman karena tidak menghakimi, tidak membocorkan cerita, serta selalu tersedia kapan saja.
"Kadang ada hal-hal yang masih malu kita ceritain ke teman atau keluarga, jadi orang memilih cerita dulu ke AI," kata Thiana.
Selain itu, generasi saat ini tumbuh dalam budaya digital yang serba cepat dan instan.
Mereka terbiasa mendapatkan jawaban dalam hitungan detik tanpa perlu menjelaskan alasan di balik pertanyaan yang diajukan.
Meski demikian, mereka yang terbiasa meminta pembacaan tarot kepada AI sering kali menemukan pengalaman yang berbeda ketika menjalani sesi pembacaan secara langsung.
"Biasanya mereka kaget karena ternyata reading langsung jauh lebih interaktif. Kalau di AI kan seringnya kamu nanya, terus dijawab. Nanya lagi, dijawab lagi," ujarnya.
Dalam sesi pembacaan langsung, tarot reader tidak hanya memberikan interpretasi, tetapi juga menggali akar persoalan yang sebenarnya sedang dihadapi seseorang.
Tak jarang, seseorang datang dengan keyakinan bahwa masalahnya berkaitan dengan hubungan asmara. Namun setelah melalui proses diskusi dan refleksi, persoalan yang muncul justru berkaitan dengan kepercayaan diri, trauma masa lalu, atau pola hubungan yang terus berulang.
Menurut Thiana, proses semacam itu lebih sulit diperoleh apabila seseorang hanya mengandalkan pembacaan tarot melalui AI.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, Thiana meyakini tarot reader manusia akan tetap memiliki tempat.
"Kalau orang cuma butuh arti kartu, AI mungkin bisa membantu. Tapi kalau orang butuh perspektif, diskusi, pendampingan, dan pengalaman yang personal, mereka tetap akan mencari manusia," katanya.
Ia menilai banyak klien sebenarnya telah mengetahui jawaban atas persoalan yang mereka hadapi. Namun mereka membutuhkan ruang untuk memproses, menerima, dan menguatkan diri terhadap keputusan yang harus diambil.
"Aku sering ketemu klien yang sebenarnya udah tahu jawabannya. Mereka udah tahu harus move on, udah tahu harus resign, atau berhenti mengejar seseorang. Tapi mereka datang bukan untuk dikasih jawaban baru. Mereka datang supaya lebih berani menerima jawaban yang sebenarnya sudah mereka tahu," ujarnya.
| Penduduk Jakarta Tembus 10,72 Juta, Milenial dan Gen Z Mendominasi |
|
|---|
| AHY Dorong Pembangunan Kota Modern Tetap Jaga Identitas Lokal |
|
|---|
| Debut Akting Veronica Tan di Film 'Hari Yang Kita Tunggu', Sentil Gen Z Soal Tradisi dan Toleransi |
|
|---|
| Jelang 500 tahun Usia Jakarta, Pramono Tantang Gen Z Pecahkan Dua PR: Kemacetan dan Sampah! |
|
|---|
| Richelle Skornicki Lakoni Adegan Ranjang Bersama Aliando Syarief di Sinetron 'Pernikahan Dini Gen Z' |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/tarot-thiana.jpg)