Berita Internasional
Donald Trump Ingin Bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei
Donald Trump tidak masalah apabila harus melakukan pertemuan dengan pemimpin Iran Ayatullah Mojtaba Khamenei.
WARTAKOTALIVE.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuka diri dengan Iran dan mengaku tidak masalah apabila harus melakukan pertemuan dengan pemimpin Iran Ayatullah Mojtaba Khamenei.
Pernyataan itu disampaikan Donald Trump di tengah Perundingan negosiasi gencatan senjata dengan Iran pada Kamis (4/6/2026).
Trump mengatakan bahwa dirinya tidak terlalu ngotot ingin bertemu Mojtaba. Namun demikian, apabila hal itu bisa diwujudkan maka dirinya akan sangat menghormati pertemuan tersebut.
Apabila gencatan senjata ini mencapai kesepakatan kata Trump, dirinya terhormat bisa bertemu Mojtaba.
“Saya tidak ingin bertemu, tetapi jika saya bertemu—saya akan merasa terhormat bertemu dengannya. Saya ingin melihat apakah kita dapat mencapai kesepakatan, dan jika kita mencapai kesepakatan, saya mungkin akan bertemu dengannya,” jelasnya di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat (AS).
Trump pun menyadari dirinya tidak disukai oleh Mojtaba Khamenei terlebih usai serangan 27 Februari yang menewaskan ayah, istri, dan anak Mojtaba.
Pun kata Trump dirinya juga tidak terlalu menyukai pemimpin Iran tersebut. Namun dia meyakini Mojtaba akan profesional sebagai Kepala Negara Iran.
“Itu tidak masalah bagi saya. Jika itu terjadi, saya akan bersikap hormat, karena dalam Operasi Epic Fury, ayah, istri, dan anaknya terbunuh, jadi mungkin ia menyimpan dendam dan tidak ingin bertemu. Yah, saya akan mengatakan bahwa saya bukan orang favoritnya, tetapi tetap saja, ia mungkin seorang profesional,” jelasnya.
Iran sendiri belum menanggapi ajakan pertemuan Donald Trump tersebut.
Namun dalam politik Iran, seorang Ayatollah tidak bertemu dengan pemimpin asing di luar Iran.
Baca juga: Donald Trump Akui Bentak-bentak Netanyahu Karena Lebanon
Biasanya delegasi yang dikirim untuk pertemuan dengan kepala negara lain yakni Presiden Iran atau Menteri Luar Negeri Iran.
Apabila Trump diperkenankan bertemu dengan Ayatollah maka biasanya Kepala Negara tersebut yang harus berkunjung ke Iran.
Alasan utamanya adalah untuk mengikuti preseden yang ditetapkan oleh pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang bersumpah tidak akan meninggalkan Iran setelah kembali dari pengasingan pada tahun 1979.
Presiden Iran yang mengurus perjalanan ke luar negeri, sementara Pemimpin Tertinggi memusatkan tugas diplomatiknya dari dalam negeri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Presiden-AS-Donald-Trump-saat-Konferensi-Tingkat-Tinggi.jpg)