Selasa, 2 Juni 2026

Warta Kesehatan

Harapan Baru Pasien Kanker Ovarium, Ahli Bahas Terapi Modern Minim Efek Samping

Forum tersebut menghadirkan pakar onkologi dari dalam dan luar negeri itu membahas berbagai inovasi terbaru

Tayang:
Editor: Feryanto Hadi
Pixabay
MRCCC Siloam Semanggi menggelar The 6th Siloam Oncology Summit 2026 di Jakarta, 22-24 Mei 2026. Forum ilmiah yang menghadirkan pakar onkologi dari dalam dan luar negeri itu membahas berbagai inovasi terbaru dalam penanganan kanker, termasuk strategi menghadapi kanker ovarium yang resisten terhadap kemoterapi platinum 

"Dulu pendekatannya diterapi sebanyak mungkin. Sekarang berkembang paradigma terapi minimal tetapi tetap memberikan hasil yang sama bahkan lebih baik," kata Prof Syahrul.

Menurutnya, strategi tersebut dapat membantu mengurangi efek samping sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.

Pemilihan terapi dilakukan berdasarkan evaluasi medis yang komprehensif, termasuk pemeriksaan molekuler dan genetik.

HIPEC Jadi Pilihan pada Kasus Tertentu

Sementara itu, pakar bedah onkologi asal Singapura, Profesor Melissa Teo Ching Ching, memaparkan penggunaan Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy (HIPEC) dalam penanganan kanker ovarium stadium lanjut.

HIPEC merupakan prosedur pemberian kemoterapi dosis tinggi langsung ke rongga perut setelah tindakan operasi pengangkatan jaringan kanker.

Metode ini memungkinkan obat bekerja lebih terarah pada area yang terdampak penyakit.

Menurut Profesor Melissa, HIPEC dapat menjadi pilihan terapi pada pasien tertentu, termasuk kasus kanker ovarium yang resisten terhadap platinum.

"HIPEC sebagai opsi pengobatan pada kanker ovarium stadium lanjut, terutama kasus resisten platinum, tetapi harus disertai tindakan operasi," ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan terapi tersebut sangat bergantung pada kesiapan fasilitas kesehatan dan kompetensi tim medis yang menangani pasien.

Perlu Pendekatan yang Dipersonalisasi

Para ahli sepakat bahwa kanker ovarium merupakan penyakit yang kompleks sehingga memerlukan pendekatan penanganan yang individual.

Selain operasi dan kemoterapi yang masih menjadi standar terapi utama, kini tersedia berbagai pilihan pengobatan lain seperti terapi target, imunoterapi, hingga HIPEC.

Pemilihan terapi harus disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing pasien.

Pemeriksaan genetik dan molekuler juga menjadi faktor penting dalam menentukan strategi pengobatan yang paling efektif.

Melalui forum ilmiah seperti Siloam Oncology Summit 2026, para tenaga kesehatan diharapkan dapat terus mengikuti perkembangan terbaru ilmu onkologi guna meningkatkan kualitas layanan dan hasil pengobatan pasien kanker di Indonesia.

Sumber: WartaKota
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved