Berita Jakarta
Disdik DKI Libatkan Densus 88 dan BNPT untuk Deteksi Dini Radikalisme di Sekolah
Disdik DKI gandeng Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme untuk cegah tawuran
Penulis: Yolanda Putri Dewanti | Editor: Dian Anditya Mutiara
Ringkasan Berita:
- Dinas Pendidikan DKI Jakarta menggandeng Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme untuk mencegah tawuran dan radikalisme pelajar.
- Sebanyak 60 siswa dicabut status penerima Kartu Jakarta Pintar karena terbukti terlibat tawuran.
- Pemprov DKI menegaskan siswa yang terkena sanksi tetap harus mendapat akses pendidikan dan tidak boleh putus sekolah.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperketat penanganan tawuran pelajar dengan menggandeng Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme untuk memperkuat deteksi dini di lingkungan sekolah.
Langkah itu dilakukan di tengah temuan 60 pelajar di Jakarta yang kehilangan status penerima Kartu Jakarta Pintar setelah terbukti terlibat tawuran sepanjang 2025 hingga 2026.
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, mengatakan penanganan tawuran pelajar tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari aparat keamanan, keluarga, hingga masyarakat.
“Kami sudah menjalin kerja sama dengan Densus 88. Bahkan menurut mereka, DKI Jakarta menjadi salah satu provinsi dengan deteksi dini pencegahan yang cukup cepat,” kata Nahdiana, Selasa (26/5/2026).
Dalam upaya tersebut, Disdik DKI juga melibatkan aparat kepolisian wilayah melalui Forum Komunikasi Masyarakat Sekolah yang diinisiasi Polda Metro Jaya.
Baca juga: Densus 88 Anti Teror Polri Tangkap 8 Orang Terduga Teroris Jaringan JAD
Saat ini, program percontohan forum itu telah diterapkan di SMA Negeri 1 Jakarta.
"Isinya di sana adalah dari Polda sendiri, dari kami, camat, lurah, plus tokoh masyarakat," lanjut dia.
Nahdiana menjelaskan, forum tersebut dibentuk untuk memperkuat pengawasan terhadap aktivitas pelajar, termasuk ketika berada di luar lingkungan sekolah.
Menurut dia, pembinaan siswa harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan keluarga dan masyarakat sekitar.
“Kami sedang terus mengedukasi bahwa proses pendidikan tidak boleh hanya dilihat sekolah, karena anak datang dari rumah. Dia nggak bisa skeptis, di sekolah dia berbuat A, di rumah dia berbuat B," ujar Nahdiana.
Ia menilai keterlibatan orang tua dan lingkungan sekitar sangat penting agar anak-anak tidak memiliki ruang kosong yang dapat memicu perilaku negatif.
"Nah kalau ini kita orkestrasi dengan baik, maka anak-anak kita itu tidak punya ruang kosong atau ruang hampa," kata dia.
Baca juga: Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Wakil Menko Polkam: Jangan Terlalu Menyimpulkan Ini Aksi Teroris
Selain pengawasan, Disdik DKI juga memperluas kegiatan pembinaan siswa melalui program anjangsana sekolah dan outing class di sejumlah taman yang dikelola Pemprov DKI Jakarta.
Program ini diharapkan dapat membuat siswa lebih aktif dalam kegiatan positif di luar kelas.
| Tragis, Dua Bocah Kakak Beradik Tewas Terseret Arus di Cipayung Saat Hujan Deras |
|
|---|
| Obat Tertentu Disalahgunakan, Jakpus dan BBPOM Jakarta Bergerak Selamatkan Generasi Muda |
|
|---|
| Akses Jalan di Tanjung Priok Jakarta Utara Macet Total, Aktivitas Depo Kontainer Jadi Sorotan |
|
|---|
| Hercules Polisikan Balik Sani Fitriana karena Dianggap Memberikan Keterangan Berlebihan |
|
|---|
| Tunggu Janji Gubernur, Pedagang Pasar Taman Puring Masih Bertahan di Lokasi Bekas Kebakaran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/SEKOLAH-SWASTA-GRATIS-Kepala-Dinas-Pendidikan-DKI-Jakarta-Nahdiana.jpg)