Pendidikan
Mengenang Perjuangan Ki Hajar Dewantara, Pontjo: Komitmen Memajukan Pendidikan Nasional
Mengenang Perjuangan Ki Hajar Dewantara, Pontjo Automotive Ketua Aliansi Kebangsaan: Komitmen Memajukan Pendidikan Nasional
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Aliansi Kebangsaan dan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti mengadakan FGD bertema “Perubahan Mindset dalam Meritokrasi Pendidikan: Reposisi Guru dan Dosen sebagai Public Employment untuk MeningkatkanMasyaraka Pendidikan”, Jumat (24/04/2026).
Hadir sebagai narasumber Prof. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro, M.Sc., Ph.D, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D. (Rektor Universitas YARSI), Dudung Abdul Qodir (Ketua Pengurus Besar PGRI), Ki Darmaningtyas, M.A. (pengamat pendidikan), dan Achmad Rizali (praktisi Pendidikan berbasis Masyarakat).
Baca juga: Dari Spiritual ke Pendidikan Ilmiah, Mbah Mijan Belajar Akupunktur ke Tiongkok hingga Buka Klinik
FGD ini sendiri dalam rangka menyongsong Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026 sebagai momen mengenang perjuangan pelopor pendidikan Ki Hajar Dewantara.
“Sekaligus juga memperkuat komitmen kita bersama untuk ikut memajukan pendidikan nasional kita,” ucap Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo.
Pontjo berharap melalui FGD ini dapat mengidentifikasi masalah utama tata kelola pendidikan, merumuskan rekomendasi kebijakan adaptif, meritokratik, dan berorientasi kualitas, serta menghasilkan quick wins yang bisa segera diimplementasikan.
Dikatakan, Aliansi Kebangsaan menaruh perhatian besar pada isu pendidikan nasional karena meyakini bahwa pendidikan memainkan peran penting dalam perjuangan pembebasan dari segala bentuk penjajahan dan penindasan untuk memerdekakan Indonesia seutuhnya.
Dalam sejarah Indonesia, pendidikan telah terbukti mampu menjadi senjata yang ampuh dalam mendukung proses perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Baca juga: Universitas Binawan Hadirkan Dosen Asal Finlandia, Bahas Standar Pendidikan Keperawatan Global
Pendidikan tidak hanya berperan dalam proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga wahana pembentukan kesadaran kritis, karakter, serta sarana pembebasan manusia dari belenggu kebodohan, kemiskinan, ketidak-adilan, dan cengkraman penjajahan.
“Pendidikan juga melahirkan golongan cendekiawan yang memimpin pergerakan nasional,” katanya dalam diskusi yang dimoderatori oleh Dr. Susetya Herawati, ST., M.Si.
Dalam perjuangan pembebasan untuk kemerdekaan, para cendekiawan pribumi mulai melakukan perlawanan dengan mendirikan sekolah-sekolah pribumi.
Salah satu sekolah pribumi yang paling terkenal adalah sekolah Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, yang hari kelahirannya 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Sekolab ini menjadi lembaga pendidikan bagi warga pribumi untuk menentang diskriminasi pendidikan yang dilakukan oleh kolonialisme.
Selain itu, sekolah ini juga berhasil menjadi wadah untuk mencetak cendikiawan pribumi baru yang memiliki kesadaran untuk memperjuangkan hak-hak mereka menjadi bangsa yang merdeka.
Baca juga: Kepala BGN: Program Makan Bergizi Gratis Tak Mengurangi Anggaran Pendidikan 2026
Namun setelah lebih dari delapan dekade Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia masih menghadapi persoalan kebangsaan yang paling dalam yaitu mewujudkan Indonesia yang merdeka seutuhnya. Bukan saja merdeka secara politik tapi juga merdeka mental, sosial, ekonomi, dan budaya.
“Kemerdekaan politik sudah kita peroleh dan penjajahan fisik memang telah berakhir. Tetapi kemerdekaan batin, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak belum sepenuhnya hidup dalam diri bangsa Indonesia,” tegasnya.
| OREO Rilis Program Berbagi Seru, Hadirkan Alat Pembelajaran Seru Berbasis Literasi dan Sains |
|
|---|
| Keterbatasan Bukan Halangan, 5 Calon Mahasiswa Tunanetra Ikut UTBK di Universitas Indonesia |
|
|---|
| Bukan Lagi Eksperimen, Sistem Kuliah Digital Kini Cetak Lulusan Nyata |
|
|---|
| UTBK SNBT 2026 di Unsika Diawasi Ketat untuk Cegah Kecurangan |
|
|---|
| Universitas Mercu Buana Mengukuhkan 2 Guru Besar Perempuan saat Peringatan Hari Kartini |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Pontjo-Perubahan-Sistem-Pendidikan.jpg)