Jumat, 24 April 2026

berita internasional

Profil dan Jejak Panjang Ayatollah Ali Khamenei

Profil dan Jejak Panjang Ayatollah Ali Khamenei: Dari Ulama Revolusioner hingga Penguasa Tertinggi Iran

Editor: Joanita Ary
Istimewa/Tidak Ada
KHAMENEI WAFAT -- Nama Ali Khamenei selama lebih dari tiga dekade identik dengan wajah Republik Islam Iran. Ia bukan sekadar pemimpin negara, melainkan simbol ideologi, pusat kekuasaan politik, sekaligus penjaga warisan revolusi yang mengubah Iran pada akhir abad ke-20. Wafatnya Khamenei pada usia 86 tahun setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel menutup satu era kepemimpinan paling panjang dan menentukan dalam sejarah modern Iran. 

Penjara justru memperkuat reputasinya sebagai ulama muda revolusioner.

Ketika Iranian Revolution meletus pada 1979, Khamenei berada di barisan ideolog yang membantu membangun sistem negara baru berbasis konsep wilayat al-faqih kepemimpinan ulama atas pemerintahan.

Revolusi itu mengubah Iran dari monarki sekuler menjadi republik teokratis, sekaligus menjadikan ulama sebagai pusat kekuasaan negara.

Selamat dari Bom yang Mengubah Hidupnya

Pada Juni 1981, sebuah bom tersembunyi dalam alat perekam suara meledak saat Khamenei berpidato.

Ia selamat, tetapi lengan kanannya lumpuh permanen.

Serangan itu justru meningkatkan status simboliknya sebagai “penyintas revolusi”.

Beberapa bulan kemudian, ia terpilih sebagai Presiden Iran di tengah kekacauan politik dan perang besar melawan Irak.

Masa jabatannya berlangsung selama konflik Iran–Iraq War, perang yang menewaskan ratusan ribu orang dan membentuk doktrin keamanan nasional Iran hingga kini.

Pemimpin yang Tak Diprediksi

Saat Khomeini wafat pada 1989, banyak pengamat tidak memperkirakan Khamenei akan menjadi penerusnya.

Secara keulamaan, ia belum berada di tingkat tertinggi.

Namun Majelis Ahli memilihnya sebagai Pemimpin Tertinggi.

Sejak saat itu, struktur kekuasaan Iran perlahan terkonsolidasi di tangannya.

Sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei memiliki kewenangan luas yakni menunjuk kepala militer, mengendalikan lembaga peradilan, memengaruhi parlemen, hingga menentukan arah kebijakan luar negeri.

Sumber: WartaKota
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved