Kamis, 16 April 2026

Rabu Abu, Gerbang Pertobatan Menuju Paskah

Di hari inilah dahi umat ditandai dengan abu berbentuk salib, seraya mendengar seruan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”

Editor: Joanita Ary
Istimewa
RABU ABU -- Umat Katolik di seluruh dunia memasuki Masa Prapaskah melalui perayaan Rabu Abu, sebuah momen yang hening sekaligus sarat makna. Di hari inilah dahi umat ditandai dengan abu berbentuk salib, seraya mendengar seruan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” 

Kesadaran akan kerapuhan itu, lanjutnya, justru menjadi pintu masuk pertobatan.

Abu mengingatkan manusia bahwa dirinya lemah, rapuh, dan rentan. 

“Tanda abu menjadi pengingat akan ketidaklayakan, kehinaan, sekaligus kesederhanaan kita sebagai manusia. Dari sanalah kita belajar rendah hati di hadapan Tuhan,” kata dia.

Masa Prapaskah yang dimulai pada Rabu Abu berlangsung selama 40 hari hingga Kamis Putih sebelum Misa Perjamuan Tuhan.

Dalam praktiknya, Gereja mengajak umat menghidupi tiga pilar utama selama Prapaskah yakni doa, puasa, dan derma.

Puasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung diwajibkan bagi umat berusia 18 tahun hingga menjelang 60 tahun, dengan ketentuan satu kali makan kenyang dan dua kali makan ringan secukupnya.

Sementara itu, derma diwujudkan melalui kepedulian konkret kepada sesama, terutama mereka yang miskin, tersisih, dan membutuhkan pertolongan, sebagai perpanjangan tangan kasih Allah di tengah dunia.

Namun, makna puasa tidak berhenti pada pengurangan makan.

“Bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih diri untuk menguasai keinginan dan memperdalam kasih kepada Tuhan serta sesama,” terang romo tersebut.

Puasa dan pantang menjadi latihan pengendalian diri, sekaligus wujud solidaritas terhadap mereka yang berkekurangan.

Rabu Abu pada akhirnya bukan perayaan yang meriah, melainkan undangan sunyi untuk menata ulang arah hidup.

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, tanda abu di dahi menjadi simbol kontras, bermakna sederhana, namun menggugah.

Ia mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian, melainkan tentang pertobatan dan pembaruan.

Dengan memasuki Masa Prapaskah, umat diajak berhenti sejenak, memeriksa batin, dan kembali kepada Tuhan dengan hati yang lebih bersih dan rendah hati.

Sebuah perjalanan rohani yang berpuncak pada sukacita Paskah, ketika kebangkitan Kristus dirayakan sebagai kemenangan atas dosa dan maut.

“Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Seruan itu kembali bergema, membuka langkah umat dalam menapaki 40 hari yang sarat makna.

Selamat memasuki Masa Prapaskah. Tuhan memberkati.

 

 

 

Sumber: KOMPAS
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved