Rabu Abu, Gerbang Pertobatan Menuju Paskah
Di hari inilah dahi umat ditandai dengan abu berbentuk salib, seraya mendengar seruan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”
Kesadaran akan kerapuhan itu, lanjutnya, justru menjadi pintu masuk pertobatan.
Abu mengingatkan manusia bahwa dirinya lemah, rapuh, dan rentan.
“Tanda abu menjadi pengingat akan ketidaklayakan, kehinaan, sekaligus kesederhanaan kita sebagai manusia. Dari sanalah kita belajar rendah hati di hadapan Tuhan,” kata dia.
Masa Prapaskah yang dimulai pada Rabu Abu berlangsung selama 40 hari hingga Kamis Putih sebelum Misa Perjamuan Tuhan.
Dalam praktiknya, Gereja mengajak umat menghidupi tiga pilar utama selama Prapaskah yakni doa, puasa, dan derma.
Puasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung diwajibkan bagi umat berusia 18 tahun hingga menjelang 60 tahun, dengan ketentuan satu kali makan kenyang dan dua kali makan ringan secukupnya.
Sementara itu, derma diwujudkan melalui kepedulian konkret kepada sesama, terutama mereka yang miskin, tersisih, dan membutuhkan pertolongan, sebagai perpanjangan tangan kasih Allah di tengah dunia.
Namun, makna puasa tidak berhenti pada pengurangan makan.
“Bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih diri untuk menguasai keinginan dan memperdalam kasih kepada Tuhan serta sesama,” terang romo tersebut.
Puasa dan pantang menjadi latihan pengendalian diri, sekaligus wujud solidaritas terhadap mereka yang berkekurangan.
Rabu Abu pada akhirnya bukan perayaan yang meriah, melainkan undangan sunyi untuk menata ulang arah hidup.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, tanda abu di dahi menjadi simbol kontras, bermakna sederhana, namun menggugah.
Ia mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian, melainkan tentang pertobatan dan pembaruan.
Dengan memasuki Masa Prapaskah, umat diajak berhenti sejenak, memeriksa batin, dan kembali kepada Tuhan dengan hati yang lebih bersih dan rendah hati.
Sebuah perjalanan rohani yang berpuncak pada sukacita Paskah, ketika kebangkitan Kristus dirayakan sebagai kemenangan atas dosa dan maut.
“Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Seruan itu kembali bergema, membuka langkah umat dalam menapaki 40 hari yang sarat makna.
Selamat memasuki Masa Prapaskah. Tuhan memberkati.
| Halaman Gereja Koinonia Jadi Lokasi Salat Iduladha, Toleransi di Jatinegara Dipuji |
|
|---|
| Tiga Kali Nonton Film Pesta Babi, Pendeta HKBP Daniel Harahap Ungkap Akar Masalah di Papua |
|
|---|
| Suasana Haru Prosesi Ibadah Pemakaman Nus Kei Diantar Ratusan Pelayat |
|
|---|
| Dituding Pimpin Gereja Katolik Karena WN Amerika, Paus Leo XIV Balas Trump: Saya Tidak Takut |
|
|---|
| PGI Desak Pemerintah Lindungi Ibadah Usai Penyegelan di Tangerang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Bersamaan-Dengan-Pilpres-2024-Ini-Jadwal-Misa-Rabu-Abu-di-Keuskupan-Agung-Jakarta.jpg)