Rabu Abu, Gerbang Pertobatan Menuju Paskah
Di hari inilah dahi umat ditandai dengan abu berbentuk salib, seraya mendengar seruan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”
WARTAKOTALIVECOM, Jakarta — Umat Katolik di seluruh dunia memasuki Masa Prapaskah melalui perayaan Rabu Abu, sebuah momen yang hening sekaligus sarat makna.
Di hari inilah dahi umat ditandai dengan abu berbentuk salib, seraya mendengar seruan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”
Rabu Abu bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan gerbang menuju masa pertobatan selama 40 hari sebelum Paskah.
Dalam kalender liturgi Gereja, masa ini disebut Prapaskah atau Quadragesima, sebuah periode refleksi mendalam untuk mempersiapkan diri menyambut kebangkitan Yesus Kristus.
Seorang Romo menjelaskan, perayaan Rabu Abu memiliki arti penting sebagai tanda dimulainya “retret agung” bagi umat beriman.
“Rabu Abu menandai dibukanya Masa Prapaskah, masa tobat, masa untuk kembali merefleksikan perjalanan hidup kita agar semakin sesuai sebagai murid-murid Kristus yang baik,” ujarnya saat diwawancarai.
Menurutnya, tanda abu di dahi bukan sekadar simbol lahiriah. Ia adalah pengingat akan identitas dan panggilan hidup setiap orang beriman.
“Dengan abu di dahi, kita diingatkan untuk memasuki masa pertobatan, masa perubahan hidup, untuk kembali menghidupi identitas kita sebagai murid Kristus,” ujar romo tersebut.
Simbol abu sendiri berakar kuat dalam tradisi Kitab Suci dan praktik kuno Gereja.
Dalam tradisi Perjanjian Lama, abu kerap digunakan sebagai tanda berkabung dan pertobatan.
Secara historis, praktik ini berkembang dalam kehidupan Gereja hingga akhirnya pada abad ke-7, masa Prapaskah secara resmi dimulai pada hari Rabu sebelum Minggu Prapaskah pertama, sebagaimana ditetapkan oleh Paus Gregorius Agung, agar jumlah hari puasa efektif genap 40 hari, tidak termasuk enam hari Minggu yang dipandang sebagai hari raya.
Abu yang digunakan pada Rabu Abu berasal dari pembakaran daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya.
Dengan demikian, terdapat kesinambungan simbolik antara awal Masa Prapaskah dan peringatan sengsara Kristus dalam Pekan Suci.
Kemudian Romo juga menuturkan, abu mengandung pesan kerendahan hati yang sangat mendasar.
“Dalam tradisi Gereja dan masyarakat zaman dulu, abu adalah tanda kehinaan dan asal-usul manusia. Kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” ujarnya.
| Momen Toleransi di Jakarta, Misa Jumat Agung dan Salat Jumat Beriringan |
|
|---|
| Diawali Jalan Salib Kreatif, Gereja Katedral Jakarta Gelar Ibadah Jumat Agung |
|
|---|
| Misa Paskah 2026 di Gereja Katedral Jakarta, Ini Jadwal dan Aturannya |
|
|---|
| Jelang Paskah 2026, 4.500 Personel Polda Metro Jaya Siaga Penuh |
|
|---|
| Jadwal Misa Rabu Abu 18 Februari di Gereja Katedral dan Keuskupan Agung Jakarta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Bersamaan-Dengan-Pilpres-2024-Ini-Jadwal-Misa-Rabu-Abu-di-Keuskupan-Agung-Jakarta.jpg)