Kamis, 30 April 2026

Rabu Abu, Gerbang Pertobatan Menuju Paskah

Di hari inilah dahi umat ditandai dengan abu berbentuk salib, seraya mendengar seruan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”

Tayang:
Editor: Joanita Ary
Istimewa
RABU ABU -- Umat Katolik di seluruh dunia memasuki Masa Prapaskah melalui perayaan Rabu Abu, sebuah momen yang hening sekaligus sarat makna. Di hari inilah dahi umat ditandai dengan abu berbentuk salib, seraya mendengar seruan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” 

WARTAKOTALIVECOM, Jakarta — Umat Katolik di seluruh dunia memasuki Masa Prapaskah melalui perayaan Rabu Abu, sebuah momen yang hening sekaligus sarat makna.

Di hari inilah dahi umat ditandai dengan abu berbentuk salib, seraya mendengar seruan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”

Rabu Abu bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan gerbang menuju masa pertobatan selama 40 hari sebelum Paskah.

Dalam kalender liturgi Gereja, masa ini disebut Prapaskah atau Quadragesima, sebuah periode refleksi mendalam untuk mempersiapkan diri menyambut kebangkitan Yesus Kristus.

Seorang Romo menjelaskan, perayaan Rabu Abu memiliki arti penting sebagai tanda dimulainya “retret agung” bagi umat beriman.

“Rabu Abu menandai dibukanya Masa Prapaskah, masa tobat, masa untuk kembali merefleksikan perjalanan hidup kita agar semakin sesuai sebagai murid-murid Kristus yang baik,” ujarnya saat diwawancarai.

Menurutnya, tanda abu di dahi bukan sekadar simbol lahiriah. Ia adalah pengingat akan identitas dan panggilan hidup setiap orang beriman.

 “Dengan abu di dahi, kita diingatkan untuk memasuki masa pertobatan, masa perubahan hidup, untuk kembali menghidupi identitas kita sebagai murid Kristus,” ujar romo tersebut.

Simbol abu sendiri berakar kuat dalam tradisi Kitab Suci dan praktik kuno Gereja.

Dalam tradisi Perjanjian Lama, abu kerap digunakan sebagai tanda berkabung dan pertobatan.

Secara historis, praktik ini berkembang dalam kehidupan Gereja hingga akhirnya pada abad ke-7, masa Prapaskah secara resmi dimulai pada hari Rabu sebelum Minggu Prapaskah pertama, sebagaimana ditetapkan oleh Paus Gregorius Agung, agar jumlah hari puasa efektif genap 40 hari, tidak termasuk enam hari Minggu yang dipandang sebagai hari raya.

Abu yang digunakan pada Rabu Abu berasal dari pembakaran daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya.

Dengan demikian, terdapat kesinambungan simbolik antara awal Masa Prapaskah dan peringatan sengsara Kristus dalam Pekan Suci.

Kemudian Romo juga menuturkan, abu mengandung pesan kerendahan hati yang sangat mendasar.

“Dalam tradisi Gereja dan masyarakat zaman dulu, abu adalah tanda kehinaan dan asal-usul manusia. Kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” ujarnya.

Kesadaran akan kerapuhan itu, lanjutnya, justru menjadi pintu masuk pertobatan.

Abu mengingatkan manusia bahwa dirinya lemah, rapuh, dan rentan. 

“Tanda abu menjadi pengingat akan ketidaklayakan, kehinaan, sekaligus kesederhanaan kita sebagai manusia. Dari sanalah kita belajar rendah hati di hadapan Tuhan,” kata dia.

Masa Prapaskah yang dimulai pada Rabu Abu berlangsung selama 40 hari hingga Kamis Putih sebelum Misa Perjamuan Tuhan.

Dalam praktiknya, Gereja mengajak umat menghidupi tiga pilar utama selama Prapaskah yakni doa, puasa, dan derma.

Puasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung diwajibkan bagi umat berusia 18 tahun hingga menjelang 60 tahun, dengan ketentuan satu kali makan kenyang dan dua kali makan ringan secukupnya.

Sementara itu, derma diwujudkan melalui kepedulian konkret kepada sesama, terutama mereka yang miskin, tersisih, dan membutuhkan pertolongan, sebagai perpanjangan tangan kasih Allah di tengah dunia.

Namun, makna puasa tidak berhenti pada pengurangan makan.

“Bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih diri untuk menguasai keinginan dan memperdalam kasih kepada Tuhan serta sesama,” terang romo tersebut.

Puasa dan pantang menjadi latihan pengendalian diri, sekaligus wujud solidaritas terhadap mereka yang berkekurangan.

Rabu Abu pada akhirnya bukan perayaan yang meriah, melainkan undangan sunyi untuk menata ulang arah hidup.

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, tanda abu di dahi menjadi simbol kontras, bermakna sederhana, namun menggugah.

Ia mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian, melainkan tentang pertobatan dan pembaruan.

Dengan memasuki Masa Prapaskah, umat diajak berhenti sejenak, memeriksa batin, dan kembali kepada Tuhan dengan hati yang lebih bersih dan rendah hati.

Sebuah perjalanan rohani yang berpuncak pada sukacita Paskah, ketika kebangkitan Kristus dirayakan sebagai kemenangan atas dosa dan maut.

“Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Seruan itu kembali bergema, membuka langkah umat dalam menapaki 40 hari yang sarat makna.

Selamat memasuki Masa Prapaskah. Tuhan memberkati.

 

 

 

Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved