Selasa, 9 Juni 2026

Berita Nasional

Buruh: Pilkada Dipilih Rakyat Saja Bohong, Apalagi Dipilih DPRD

Buruh tolak penghapusan pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung yang tengah digodok pemerintah dan DPR RI. 

Tayang:
Editor: Desy Selviany
Warta Kota/Miftahul Munir
DEMO - Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal di Patung Kuda, Gambir, Jakarta Pusat pada Senin (29/12/2025). Said Iqbal pun menilai, demokrasi di Indonesia sudah semakin mundur lantaran aksi unjuk rasa dibatasi oleh ruang. 

WARTAKOTALIVE.COM - Buruh tolak penghapusan pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung yang tengah digodok pemerintah dan DPR RI. 

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menilai, penghapusan Pilkada langsung berpotensi membuat upah buruh semakin tertekan.

Sebab Pilkada melalui DPRD akan semakin menjauhkan kepala daerah dari kepentingan rakyat, khususnya kaum buruh.

"Nah kemudian terhadap isu pemilihan kepala daerah atau pilkada yang sedang diproses oleh teman-teman partai politik di parlemen, Partai Buruh menolak bilamana pilkada dilakukan atau dipilih melalui DPRD," ujar Said Iqbal pada konferensi pers virtual, Selasa (13/1/2026) seperti dimuat Tribunnews.com.

Pasalnya kata Said, kebijakan upah minimum berada di tangan gubernur.

Menurut Said Iqbal, pengalaman buruh menunjukkan bahwa kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat saja masih kerap mengabaikan aspirasi pekerja.

"Yang menetapkan upah minimum adalah gubernur. Anda bisa bayangkan, menurut keyakinan buruh, pilkada dipilih langsung oleh rakyat saja gubernur yang dipilih oleh rakyat itu berbohong, tidak takut dengan rakyat, bahkan berbohong mencari opini-opini sehingga upah jadi murah," katanya.

Apalagi gubernur dipilih dengan DPRD. Tentunya kepentingan elit politik yang lebih diutamakan ketimbang buruh.

"Apalagi kalau gubernur dipilih oleh DPRD provinsi, maka gubernur tunduk dan takut pada DPRD. Dipilih rakyat saja berbohong ketika mengambil keputusan upah minimum, apalagi kalau dipilih DPRD," ujarnya.

Selain itu, Said Iqbal juga menyoroti dampak sistem pilkada DPRD terhadap bupati dan wali kota. 

Dirinya mencontohkan kasus perubahan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) di Jawa Barat yang dinilai merugikan buruh.

"Bupati dan wali kota yang sekarang saja dipilih langsung oleh rakyatnya, itu bisa dirubah-rubah oleh gubernur keputusan upah minimumnya. Apalagi kalau dipilih DPRD kabupaten kota, bupati wali kota nggak mau dengerin lagi suara buruh karena dia tahu dia tidak akan dipecat oleh rakyat," kata Said Iqbal. 

Selain itu, buruh juga masih memiliki trauma sejarah terhadap masa Orde Baru.

Orde Baru adalah periode pemerintahan Indonesia di bawah Presiden Soeharto dari tahun 1966 hingga 1998, yang ditandai dengan stabilitas politik, pembangunan ekonomi, tetapi juga otoritarianisme dan pelanggaran HAM.

Baca juga: Buruh Sindir Dedi Mulyadi yang Takut Bertemu Soal UMSK Jawa Barat

Dirinya menilai alasan mahalnya biaya Pilkada langsung tidak bisa dijadikan alasan untuk kembali ke sistem lama.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved