Minggu, 26 April 2026

Makan Bergizi Gratis

Kasus Keracunan dan Serapan Rendah, Program MBG Kini Dievaluasi

Program Makan Bergizi Gratis tengah dievaluasi menyusul rendahnya serapan anggaran dan kasus keracunan di beberapa daerah.

YouTube Kompas TV
EVALUASI MBG - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa dialihkan jika serapan dana terus rendah. 

“Tapi kalau memang bisa diserap kan bagus. Jadi saya nggak negur tapi saya mendukung. Tapi kalau nggak jalan, saya ambil duitnya,” pungkasnya.

Makanan Basi dan Keracunan

KERACUNAN MBG - Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim saat menjenguk siswa yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor, Sabtu (10/5/2025) malam. Saat ini korbannya mencapai 223 orang.
KERACUNAN MBG - Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim saat menjenguk siswa yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor, Sabtu (10/5/2025) malam. Saat ini korbannya mencapai 223 orang. (Pemkot Bogor)

Program MBG sempat mendapat sorotan publik karena munculnya isu makanan basi dan keracunan di sejumlah wilayah.

Pemerintah disebut belum maksimal dalam mengkomunikasikan program ini secara strategis kepada masyarakat.

Purbaya juga menyampaikan bahwa mulai pekan depan, pihaknya akan melakukan patroli ke kementerian dan lembaga (K/L) untuk memastikan program-program pemerintah berjalan sesuai target.

Jika ditemukan anggaran yang tidak digunakan optimal, ia menegaskan akan segera mengalihkannya.

“Kita lihat mana yang paling pas,” ujarnya.

Tanggapan Istana Keracunan Massal

Pihak Istana Kepresidenan menyampaikan permohonan maaf atas kasus keracunan massal Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masih saja terjadi di berbagai daerah.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan, kasus keracunan tersebut bukanlah sebuah hal yang diharapkan.

"Tentunya kami atas namanya pemerintah dan mewakili Badan Gizi Nasional, memohon maaf karena telah terjadi kembali beberapa kasus di beberapa daerah,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (20/9/2025).

"Yang tentu saja itu bukan sesuatu yang kita harapkan dan bukan sesuatu kesengajaan," ucap dia. 

Sejak program MBG dijalankan hingga pertengahan September 2025, lembaga pemantau pendidikan mencatat ada 5.360 siswa menjadi korban keracunan makanan akibat program ini. 

Kasus-kasus keracunan MBG terjadi di beberapa wilayah sejak program tersebut dijalankan, di antaranya Bogor, Tasikmalaya, Pamekasan, Garut, Sumbawa, Blora, Banggai Kepulauan, Lamongan, Brebes, Gunungkidul, Wonogiri, Bengkulu, Muba, hingga Ambon.

Atas kasus keracunan MBG yang terjadi, Prasetyo memastikan kejadian-kejadian ini akan menjadi evaluasi bagi BGN dan pihak terkait lainnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved