Senin, 11 Mei 2026

Berita Nasional

Kutip Hadih Maja, Safrizal Tegaskan Pembangunan Harus Selaras dengan Alam

Kemendagri menegaskan pembangunan harus selaras dengan alam demi ketahanan ekonomi dan mitigasi bencana.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dwi Rizki
Istimewa
PEMBANGUNAN - Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal ZA dalam lokakarya 'Growth with Nature' yang berlangsung di The Pade Hotel, Banda Aceh pada Senin (11/5/2026). Dirinya menegaskan bahwa pembangunan Aceh harus tumbuh bersama alam, bukan menaklukkan alam. 

Ringkasan Berita:
  • Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA menegaskan pembangunan Aceh harus mengedepankan konsep “Growth with Nature” atau tumbuh bersama alam.
  • Dalam lokakarya di Banda Aceh, ia menyoroti pentingnya menjaga Kawasan Ekosistem Leuser, memperkuat tata ruang berbasis mitigasi bencana, serta menghidupkan kearifan lokal dan kolaborasi lintas sektor demi pembangunan yang hijau, tangguh, dan berkelanjutan.

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal ZA, menegaskan bahwa pembangunan Aceh harus tumbuh bersama alam, bukan menaklukkan alam.

Pesan itu disampaikan dalam lokakarya 'Growth with Nature' yang berlangsung di The Pade Hotel, Banda Aceh pada Senin (11/5/2026).

Dalam sambutannya, Safrizal mengingatkan kembali tragedi tsunami 2004 yang merenggut lebih dari 170 ribu jiwa, serta bencana hidrometeorologi sepanjang 2025 yang menimbulkan kerugian Rp68,67 triliun dan mengungsikan lebih dari 2,2 juta kepala keluarga. 

Safrizal menegaskan bahwa paradigma Growth with Nature harus menjadi arah pembangunan baru Aceh.

Kawasan Ekosistem Leuser disebut sebagai modal ekologis dunia dengan valuasi jasa lingkungan lebih dari USD 600 juta per tahun. 

Menurutnya, menjaga hutan bukanlah beban pembangunan, melainkan investasi jangka panjang bagi ketahanan ekonomi dan keselamatan masyarakat.

Ia juga mengangkat kearifan lokal sebagai fondasi penting.

Diungkapkannya, Hadih Maja menyebutkan 'Di bineh pasi ta pula aron, di dalam neuheun ta pula bangka'.

Kalimat tersebut bermakna 'Menanam cemara di pesisir dan mangrove di tambak, agar masyarakat terlindungi dari air pasang'. 

Hadih Maja adalah peribahasa atau pepatah-petitih tradisional Aceh yang kaya akan nilai moral, adat, dan agama.

Ini merupakan warisan sastra lisan yang berfungsi sebagai panduan hidup, nasehat, peringatan, serta sindiran halus.

Hadih Maja dianggap sebagai 'ruh' adat Aceh yang mengatur perilaku masyarakat sehari-hari.

Baca juga: Bertahun-tahun Tak Kunjung Tuntas, Ketua DPRD Depok Desak Penanganan Banjir di Cipayung

Safrizal menekankan bahwa pranata adat seperti Mukim, Panglima Laot, Panglima Uteun, dan Keujruen Blang adalah bukti bahwa masyarakat Aceh telah mengenal prinsip keberlanjutan jauh sebelum istilah sustainability populer secara global.

Sebagai tindak lanjut, ia menekankan perlunya langkah konkret yang mencakup penguatan tata ruang berbasis mitigasi bencana dan regulasi kawasan lindung, pengembangan proyek percontohan solusi berbasis alam serta penguatan masyarakat adat, serta pengembangan skema pembiayaan hijau dan kolaborasi lintas wilayah.

“Tidak cukup sama-sama bekerja, tetapi harus bekerja sama,” tegasnya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved