Berita Nasional
Kemendagri Ingatkan Bahaya Ekstremisme yang Menyasar Anak Muda
Kemendagri melalui Ditjen Polpum menggelar diskusi pencegahan ekstremisme bersama 150 pelajar SMA di Kota Cirebon, Kamis (5/3/2026).
Ringkasan Berita:
- Pelajar SMA di Cirebon Dikumpulkan, Kemendagri Ingatkan Bahaya Ekstremisme yang Menyasar Anak Muda
- Banyak Remaja Jadi Target Ideologi Berbahaya, Kemendagri Ajak Pelajar Cirebon Perkuat Sekolah Ramah
- Cerita dari Cirebon, 150 Pelajar Diajak Kemendagri Lawan Ekstremisme yang Menyasar Anak Sekolah
WARTAKOTALIVE.COM, PALMERAH - Upaya mencegah penyebaran paham ekstremisme di kalangan pelajar terus diperkuat. Salah satunya melalui kegiatan diskusi yang melibatkan ratusan siswa SMA di Kota Cirebon.
Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri menggelar kegiatan penguatan ekosistem pendidikan dan pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan di Aula Sekretariat Daerah Kota Cirebon, Kamis (5/3/2026).
Kegiatan ini diikuti aparatur Pemerintah Kota Cirebon, perwakilan pelajar, serta guru konseling dari berbagai sekolah.
Total sekitar 150 pelajar dari 25 SMA di Kota Cirebon hadir dalam diskusi tersebut.
Baca juga: Viral Konvoi Mobil Zig-Zag di Tol Becakayu, Polisi Lacak Pengemudi
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapat pemaparan mengenai meningkatnya ancaman penyebaran ideologi ekstrem di kalangan usia sekolah.
Data dari Densus 88 Antiteror Mabes Polri menunjukkan kelompok usia pelajar kini menjadi salah satu target penyebaran ideologi berbahaya.
Banyak remaja yang terpapar sebenarnya bukan karena niat jahat.
Sebagian dari mereka hanya merasa kesepian, terluka, atau sedang mencari pengakuan di lingkungan yang salah.
Karena itu, lingkungan sekolah dinilai memiliki peran penting dalam membangun ketahanan pelajar terhadap paham radikal.
Empat Pilar Sekolah untuk Cegah Ekstremisme
Direktur Kewaspadaan Nasional Ditjen Polpum Kemendagri Aang Witarsa menjelaskan sekolah memiliki posisi strategis untuk melakukan pencegahan sejak dini.
Menurut dia, ada empat pilar penting yang harus dibangun di lingkungan sekolah.
Pertama adalah ramah. Sekolah perlu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas perundungan.
Baca juga: KKN Universitas Binawan Dorong Desa Sehat di Pasar Kemis Tangerang
Kedua adalah inklusif. Artinya menghargai perbedaan dan tidak melakukan diskriminasi terhadap siswa mana pun.
Ketiga adalah responsif. Sekolah harus memiliki sistem pelaporan yang aman dan cepat ketika muncul persoalan di kalangan siswa.
| PKB Angkat Budaya Betawi Jadi Agenda Politik, Muscab Jakarta Jadi Panggung Konsolidasi 2029 |
|
|---|
| Sangha Agung Indonesia Gelar Perayaan 67 Tahun Pengabdian untuk Indonesia |
|
|---|
| Momen Prabowo Panggil dan Salami Prajurit TNI Pembaca Doa di Akmil Magelang |
|
|---|
| Prabowo Tutup Pidato di Retret DPRD, Media Diminta Keluar Ruangan: “Saya Ingin Bicara Apa Adanya” |
|
|---|
| Dari Layanan Manual ke Sistem Terpadu, Transformasi Baru Industri Alih Daya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Pelajar-SMA-mengikuti-diskusi-pencegahan-ekstremisme-berbasis-kekerasan.jpg)