Jumat, 1 Mei 2026

Berita Kesehatan

Sebulan Tak Bisa Jalan, Andre Bangkit Lagi Berkat Terapi Robotik Stroke di Klinik Wijaya

Klinik Wijaya yang berlokasi di Jalan Wijaya II, Kebayoran Baru, Jaksel memanfaatkan teknologi robotik untuk rehabilitasi pasien stroke

Tayang:
Penulis: Miftahul Munir | Editor: Budi Sam Law Malau
Warta Kota/Miftahul Munir
PASIEN ROBOTIK STROKE - Andre, pasien stroke asal Jakarta di Klinik Wijaya yang berlokasi di Jalan Wijaya II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2026). Ia menceritakan momen kembali berdiri dan melangkah setelah sebulan terapi di Klinik Wijaya menjadi titik balik hidupnya dengan memanfaatkan teknologi robotik untuk rehabilitasi pasien stroke. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Harapan itu datang dari langkah pertama.

Bukan di jalan raya, melainkan di atas treadmill dengan bantuan robot rehabilitasi.

Bagi Andre, pasien stroke asal Jakarta, momen kembali berdiri dan melangkah setelah sebulan terapi di Klinik Wijaya menjadi titik balik hidupnya.

Baca juga: Alasan Pasien Stroke Harus Segera Ditangani, Ini Penjelasan Dokter Spesialis Bedah Syaraf RSUI 

Sejak 2013, Klinik Wijaya yang berlokasi di Jalan Wijaya II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, telah memanfaatkan teknologi robotik untuk rehabilitasi pasien stroke.

Salah satu perangkat unggulannya adalah robot Lokomat, alat bantu berjalan berbasis exoskeleton yang dirancang untuk melatih kembali fungsi gerak pasien secara bertahap dan berulang.

Owner Klinik Wijaya, Sukono Djojoatmodjo, mengatakan penggunaan teknologi robotik memberi dampak psikologis yang besar bagi pasien.

“Saat pasien bisa berdiri dan berjalan kembali, ada rasa bahagia dan harapan. Itu penting dalam proses penyembuhan,” ujarnya, Sabtu (7/2/2026).

Seiring waktu, Klinik Wijaya terus menambah perangkat rehabilitasi berbasis robotik.

Baca juga: Program Stroke Ready Hospital Pastikan Pasien Dapat Penanganan Medis Cepat, Tepat, dan Komprehensif

Saat ini tersedia berbagai jenis alat, mulai dari Robotik Lokomat, Armeo, Andago, Fourier, hingga hidroterapi.

Robot-robot tersebut didatangkan dari berbagai negara seperti Swiss, Belanda, dan China, serta disesuaikan dengan kebutuhan pasien, baik untuk anggota gerak atas, bawah, maupun keseimbangan tubuh.

Meski biaya terapi tidak murah dan belum ditanggung BPJS Kesehatan, Sukono menegaskan hasil rehabilitasi menjadi alasan utama pasien memilih terapi robotik.

“Hasilnya relatif cepat, apalagi jika dikombinasikan dengan terapi manual dan pendampingan tenaga profesional,” katanya.

Dari Lumpuh Sebelah hingga Kembali Bekerja

Andre mengalami stroke pada Januari 2022.

Saat itu, separuh tubuh kirinya tak bisa digerakkan.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved