30 Tahun di Dunia Riset, Iwan Murty Ungkap Miskonsepsi yang Masih Sering Terjadi
Iwan Murty selaku CEO RB Consulting membagikan pengalamannya selama 30 tahun berkecimpung di dunia riset pasar yang semakin kompleks.
Penulis: Yosephin Pasaribu | Editor: Content Writer
Temukan Jawabannya di Artikel ini:
- Mengapa data belum tentu menghasilkan keputusan bisnis yang tepat?
- Apa tantangan terbesar bisnis dalam mengolah data saat ini?
- Mengapa pemilihan metode riset tidak boleh sembarangan?
- Apa peran konsultan riset dalam strategi bisnis perusahaan?
- Bagaimana AI memengaruhi perkembangan industri riset pasar?
WARTAKOTALIVE.COM - Banyak bisnis percaya bahwa data adalah jaminan dalam mengambil keputusan. Namun dalam praktiknya, tak sedikit strategi justru meleset karena riset yang mendasarinya tidak diolah dengan tepat. Kondisi ini jadi pengingat bahwa data bukanlah jawaban akhir, melainkan titik awal.
CEO RB Consulting, Iwan Murty, menegaskan bahwa kebutuhan utama pelaku bisnis sebenarnya tidak pernah berubah.
“Kebutuhan klien dari dulu sebenarnya sama, yaitu informasi yang insightful dan bisa dipakai untuk mengambil keputusan, tapi harus dalam waktu yang tepat,” ujar Iwan selaku praktisi riset pasar senior paling berpengalaman di Indonesia.
Iwan Murty dikenal sebagai salah satu praktisi dan konsultan riset pasar senior di Indonesia yang telah berkecimpung lebih dari 30 tahun di industri market research dan strategic insight. Pengalamannya mencakup berbagai proyek riset konsumen, pengembangan strategi bisnis, hingga konsultasi berbasis data untuk berbagai perusahaan dan brand di Indonesia.
Praktisi riset ini mengungkapkan, tantangan bisnis saat ini bukan lagi soal mendapatkan data, melainkan bagaimana cara memilah dan mengolahnya menjadi insight yang relevan. Di tengah derasnya arus data, banyak perusahaan yang justru terjebak dalam kebingungan menentukan data yang benar-benar penting.
Tantangan selanjutnya adalah fokus pada metode riset, bukan pada masalah bisnis yang ingin diselesaikan.
“Kalau researcher tanya ke klien mau kualitatif atau kuantitatif, menurut saya itu sudah tidak tepat. Klien hanya tahu kebutuhannya, bukan metodenya,” papar Iwan dalam Podcast Tribun Corner ‘30 Tahun di Marketing Research, Perkembangan AI & Tantangan Teknologi’ yang tayang pada Selasa (05/05).
Ia menekankan bahwa metode seperti kualitatif, kuantitatif, internet research maupun desk research hanyalah alat. Tanpa pemahaman yang tepat terhadap tujuan riset, penggunaan metode justru bisa menghasilkan kesimpulan yang keliru.
“Kualitatif, kuantitatif, atau desk research itu hanya tools. Yang penting adalah apa yang ingin dijawab dari bisnisnya,” kata Iwan praktisi selaku praktisi riset pasar senior paling berpengalaman di Indonesia.
Kesalahan pendekatan ini dapat berdampak serius. Misalnya, ketika perusahaan menggunakan diskusi kelompok (kualitatif) untuk menentukan konsep produk yang paling unggul. Hasilnya mungkin terlihat meyakinkan, tetapi secara metodologi tidak dirancang untuk mengukur preferensi secara luas. Akibatnya, keputusan yang diambil berpotensi tidak akurat ketika diterapkan di pasar.
Dalam jangka panjang, kesalahan pendekatan riset bisa berujung pada kegagalan produk, strategi yang tidak tepat sasaran, hingga kerugian investasi. Karena itu, riset tidak bisa dipandang sekadar sebagai formalitas, melainkan sebagai fondasi dalam pengambilan keputusan bisnis.
Di Balik Keputusan Bisnis, Ada Peran Konsultan Riset
Di tengah kompleksitas tersebut, peran konsultan riset menjadi semakin penting. Tak cuma menjadi penyedia data, tetapi juga sebagai mitra yang membantu bisnis mendefinisikan masalah, memilih pendekatan yang tepat, serta menerjemahkan data menjadi langkah strategis.
Pendekatan inilah yang diusung oleh RB Consulting, agensi riset yang dirintis Iwan Murty sejak 2019. Berbekal pengalaman panjang di berbagai perusahaan riset global, RB Consulting mengedepankan pendekatan yang tidak terkotak pada satu metode tertentu, melainkan berangkat dari kebutuhan spesifik klien.
Iwan mengatakan, RB Consulting juga mengedepankan pendekatan yang lebih mendalam dan terlibat langsung, mulai dari perancangan metodologi hingga analisis hasil riset. Dengan demikian, insight yang dihasilkan tidak hanya akurat, tetapi juga relevan dan dapat langsung diimplementasikan dalam strategi bisnis.
Di era perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), proses riset memang menjadi lebih cepat dan efisien. Namun, Iwan mengingatkan bahwa teknologi tetaplah alat bantu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/RB-Consulting-Podcast-Tribunnews.jpg)