Ini Dia Sisa Kejayaan Emping Condet yang Legendaris
Lain dulu lain sekarang. Kini hampir tidak ditemukan kios emping di kawasan itu seiring berubahnya generasi. Pengrajin emping Condet di masa kejayaann
Penulis: Feryanto Hadi |
WARTA KOTA, CONDET -- Di era 1980an, puluhan kios penjaja emping dan aneka makanan tradisional betawi berjejer di sepanjang Jalan Condet Raya, Jakarta Timur.
Beberapa pedagang yang tidak kuat menyewa kios menggelar dagangan di tepi jalan. Saat itu, emping Condet berjaya. Ketenarannya terdengar hingga ke seluruh penjuru kota.

Tiana (63) ketika ditemui di rumahnya di Jalan Al Maghfiroh RT05/04, Kelurahan Balekambang, menunjukkan emping buatannya.
Lain dulu lain sekarang. Kini hampir tidak ditemukan kios emping di kawasan itu seiring berubahnya generasi.
Pengrajin emping Condet di masa kejayaannya sebagian besar sudah meninggal. Sebagian lagi berganti profesi sejak awal 1990an.
Seperti Rini (56) misalnya. Sejak awal 1990 ia memilih membuka warung nasi karena penjualan emping ia rasa sudah tidak banyak menguntungkan.
Apalagi, pohon-pohon melinjo di pekarangan rumahnya saat itu sudah habis dibabat.
"Dulu hampir semua perempuan di Balekambang ini bikin emping. Karena sudah mendarah sejak nenek moyang. Tapi sekarang sudah jarang. Hanya ada satu dua orang saja yang bertahan. Saya sendiri sudah berhenti sejak 1990 karena buka warung," kata warga RT 03/01 Kelurahan Balekambang kepada Warta Kota belum lama ini.
Bahkan, karena jumlah produksi emping yang sangat besar, para tengkulak dari luar daerah memasok melinjo ke para pembuat emping di Condet dalam jumlah besar.
"Dulu melinjo di Condet sendiri sampai tidak cukup karena banyak warga yang buat emping. Ada dulu tengkulak dari Parung, kalau bawa melinjo ke sini banyak sekali. Saya sampai sekarang alat-alatnya masih punya," kata Rini yang dulu menjual emping di Pasar Kramat Jati dan di Jalan Condet Raya.
Warga lain bernama Tiana, menjadi bagian dari segelintir orang yang sampai saat ini masih menekuni profesi pembuat emping.

Tiana (63) ketika ditemui di rumahnya di Jalan Al Maghfiroh RT05/04, Kelurahan Balekambang, sibuk menumbuk bijih melinjo di atas sebuah batu khusus.
Di kawasan Condet-Balekambang, nama Tiana tersohor. Emping buatannya lebar-lebar dan memiliki rasa gurih.
Perempuan 63 tahun itu ketika ditemui di rumahnya di Jalan Al Maghfiroh RT05/04, Kelurahan Balekambang, masih sibuk menumbuk bijih melinjo di atas sebuah batu khusus.
Hari itu ia harus menyelesaikan tiga kilo gram emping pesanan dari pelanggan.
"Sekarang tidak ada lagi yang jualan di kios-kios. Sewa kiosnya makin mahal. Saya begini saja, bikin emping kalau ada pesanan," kata Tiana di sela aktifitasnya.
Tiana mengaku ia bersama beberapa pembuat emping yang tersisa di Balekambang, merupakan generasi terakhir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20161030sisa-kejayaan-emping-condet-yang-legendaris2_20161030_132853.jpg)