Rabu, 22 April 2026

Ini Dia Sisa Kejayaan Emping Condet yang Legendaris

Lain dulu lain sekarang. Kini hampir tidak ditemukan kios emping di kawasan itu seiring berubahnya generasi. Pengrajin emping Condet di masa kejayaann

Penulis: Feryanto Hadi |
Warta Kota/Feryanto Hadi
Ini dia emping Condet yang legendaris itu. 

"Kalau lebaran nggak bakal keuber. Yang pesen banyak banget. Kami sampai kewalahan," kata Masenun.

Kenangan

Pembuat emping lain di kawasan Condet bernama Samali atau orang-orang setempat lebih mengenal sebagai Pak Mali.

Pak Mali yang tinggal di RT04/01 Balekambang menjadi satu-satunya pembuat emping laki-laki yang tersisa.

Produksinya pun kini tidak banyak. Setiap hari, Pak Mali hanya membuat satu sampai dua kilo emping karena tenaganya yang mulai melemah akibat faktor usia.

"Dulu saya dibantu istri. Sejak istri saya meninggal, bikinnya sekuatnya saja. Ibaratnya buat iseng-iseng saja daripada nggak ada kegiatan," kata Pak Mali ditemui di rumahnya.

Dulu, Pak Mali bukanlah pembuat emping. Pada 1970an, ia menampung emping-emping buatan masyarakat Condet. Ia menjual emping-emping itu di sekitar Jalan Condet Raya.

"Awalnya saya dagangin aja. Saya sewa kios, nanti orang-orang nitip jual di kios saya. Hasilnya lumayan karena dulu yang beli banyak, dari mana-mana," jelasnya

Tapi lama-kelamaan Pak Mali tergiur untuk memproduksi emping sendiri. Padahal, katanya, dulu membuat emping dianggap sebagai pekerjaan perempuan.

Dibuanglah jauh-jauh gengsinya sebagai lelaki. Ia pun era itu menjadi satu-satunya lelaki pembuat emping, sebelum beberapa lelaki kampung lain mengikuti jejak Pak Mali.

Petaka datang ketika pada awal 1980an arus kedatangan masyarakat luar daerah begitu deras.

Pak Mali berkisah, saat itu banyak warga Condet yang merubah kebun menjadi rumah kontrakan.

Pohon melinjo yang sebelumnya bertebaran di kebun-kebun perkampungan mulai berkurang bahkan hampir habis memasuki tahun 1990.

"Dulu di sini banyak pohon melinjo, selain pohon buah-buahan seperti salak, duku," imbuhnya.

Bersamaan dengan itu, banyak pembuat emping beralih profesi. Sebagian berhenti karena sudah mendapat penghasilan tambahan dari menyewakan rumah petak atau kamar kos.

Sumber: WartaKota
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved