Minggu, 26 April 2026

Viral Media Sosial

Thailand dan Kamboja Berperang, Apakah Harga Singkong di Indonesia Bisa Normal?

Peperangan antara Thailand dan Kamboja Pecah pada 24 Juli 2025. Apakah Konflik Kedua Negara Bisa Berdampak pada Stabilnya Singkong di Indonesia?

Editor: Dwi Rizki
Istimewa
VIRAL MEDIA SOSIAL - Kolase Pegiat Tani, Iluh Pujiati dan tangkapan layar video viral yang merekam penembakan rudal oleh anggota militer di sebuah lokasi yang diduga merupakan pabrik pengolahan singkong. Iluh Pujiati mempertanyakan dampak yang akan dihadapi Indonesia dari konflik kedua negara tersebut, mengingat Kamboja maupun Thailand diketahui merupakan importir singkong terbesar bagi Indonesia. 

Misi Penyelamatan Singkong Nusantara

Dikutip dari Kompas, problem harga singkong petani dan makin masifnya impor singkong telah dirampungkan. Namun, masih banyak pekerjaan rumah terkait komoditas itu yang masih perlu mendapat perhatian. Apalagi, Indonesia tercatat sebagai negara produsen singkong ketujuh dunia.

Sejak akhir 2024, petani singkong di sejumlah daerah di Lampung terjerat problem harga. Singkong petani dibeli murah di bawah harga patokan yang ditetapkan pemerintah setempat, yakni Rp 1.400 per kilogram, dengan rafaksi harga 15 persen.

Pabrik-pabrik tepung tapioka di daerah tersebut ada yang membeli singkong petani Rp 1.100 per kg dengan rafaksi harga 15-18 persen. Ada juga yang mematoknya Rp 1.300-Rp 1.400 per kg, tetapi rafaksi harganya 35-38 persen.

Tak hanya itu, serbuan singkong negara lain semakin masif. Dalam lima tahun terakhir (2018-2022), neraca perdagangan singkong RI hanya mengalami surplus sekali, yakni pada 2021. Selebihnya, neraca dagang tersebut selalu defisit.

Pada 2022, misalnya, defisit neraca dagang singkong senilai 10,11 juta dollar AS. Pada tahun itu, nilai ekspor dan impor singkong dan produk turunan singkong masing-masing 235.998 dollar AS dan 10,34 juta dollar AS.

Ekspor dan impor singkong RI didominasi ubi kayu yang diiris dalam bentuk pelet dan kepingan kering serta pati singkong. Negara tujuan ekspor singkong RI terbesar adalah Taiwan. Adapun impor singkong RI terbanyak berasal dari Thailand.

Singkong impor itu menyebabkan harga singkong dalam negeri tertekan atau dihargai lebih murah. Kondisi itulah yang membuat para petani singkong di Lampung berunjuk rasa di DPRD Provinsi Lampung dan sejumlah pabrik tepung singkong.

Mereka meminta harga pembelian singkong sesuai yang telah ditetapkan dan impor singkong dikendalikan.

Pada Jumat (31/1/2025), Kementerian Pertanian (Kementan) memanggil perwakilan petani singkong dan pelaku industri tepung tapioka. Tujuannya adalah mencari jalan keluar problem itu.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pertemuan itu menghasilkan tiga kesepakatan. Pertama, harga pembelian singkong petani secara nasional ditetapkan Rp 1.350 per kg. ”Jika ada yang melanggar kesepakatan harga itu, nanti akan berhadapan langsung dengan saya,” ujarnya melalui siaran pers.

Kedua, lanjut Amran, pemerintah akan memperketat kebijakan impor singkong. Impor singkong harus mendapatkan persetujuan dan rekomendasi Kementan serta baru boleh dilakukan setelah singkong petani terserap.

Ketiga, singkong akan ditetapkan sebagai komoditas yang dilarang dan dibatasi (lartas). Dengan begitu, pengawasan terhadap perdagangan singkong akan lebih ketat untuk melindungi petani dalam negeri.

”Kami telah berkoordinasi dengan menteri perdagangan untuk menahan impor singkong per 31 Januari 2025. Impor hanya boleh dilakukan jika bahan baku dalam negeri tidak mencukupi,” kata Amran.

Prospek Singkong Nusantara

Sumber: WartaKota
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved