Rabu, 27 Mei 2026

Beras Oplosan

Pakar IPB Ungkap Ciri-ciri Beras Oplosan yang Heboh Beredar di Pasaran

Pakar IPB Ungkap Ciri-ciri Beras Oplosan yang Heboh Beredar di Pasaran

Tayang:
Penulis: Hironimus Rama | Editor: Budi Sam Law Malau
Wartakotalive.com/ Hironimus Rama
CIRI BERAS OPLOSAN - Warga Kabupaten Bogor mengantri pembelian beras murah di Pasar Cibinong, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Pakar Teknologi Industri Pertanian IPB University, Prof Tajuddin Bantacut, mengatakan ada sejumlah ciri beras oplosan yang bisa dikenali secara kasat mata.  

WARTAKOTALIVE.COM, BOGOR -- Peredaran beras oplosan marak terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. 

Isu ini menghebohkan publik usai diungkapkan oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Senayan, Jakarta, pada 16 Juli 2025 lalu.

Tak tanggung-tanggung, ada sekira 212 merek beras oplosan yang beredar yang melibatkan brand-brand besar.

Baca juga: Waspada, Bahaya Mengintai bila Mengkonsumsi Beras Oplosan Setiap Hari

Beras oplosan ini beredar secara luas di pasar tradisional, mini market,hingga super market modern.

Hal ini tentu saja merugikan masyarakat konsumen. 

Pasalnya, konsumen membeli beras lebih mahal dengan kualitas lebih rendah.

Lalu, bagaimana cara mengenali suatu produk beras merupakan hasil oplosan?

Pakar Teknologi Industri Pertanian IPB University, Prof Tajuddin Bantacut, mengatakan ada sejumlah ciri beras oplosan yang bisa dikenali secara kasat mata. 

Ia menjelaskan bahwa beras oplosan dapat terlihat dari warna yang tidak seragam, butiran yang berbeda ukuran, dan tekstur nasi yang lembek setelah dimasak. 

“Jika menemukan nasi yang berbeda dari biasanya seperti warna, bau (aroma), tekstur dan butiran maka dapat dicurigai sebagai beras yang telah dioplos, dalam arti terdapat kerusakan mutu atau keberadaan benda asing,” kata Prof Tajuddin di Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jumat (18/7/2025).

Dalam beberapa kasus, lanjut dia, beras oplosan juga dicampur dengan bahan tambahan benda asing termasuk zat pewarna atau pengawet berbahaya.

Baca juga: Soal Beras Oplosan Food Station, Sugiyanto Minta Pramono Ambil Langkah Tegas

"Zat pewarna ini dapat membahayakan kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang," paparnya.

Ia mengimbau agar masyarakat mewaspadai beras yang terlihat tidak biasa, berwarna aneh, atau berbau.

“Hindari membeli beras tanpa label atau dari sumber yang tidak jelas. Cuci beras sebelum dimasak dan waspadai bila ada benda asing yang mengambang,” ucapnya.

Perihal daya simpan, ia menjelaskan bahwa idealnya beras hanya disimpan maksimal enam bulan agar kualitasnya tetap terjaga. 

"Beras juga bisa mengalami kerusakan secara alami, terutama jika disimpan terlalu lama," imbuh Prof Tajjudin.

Menurutnya, meski beras sudah disimpan di tempat yang terkendali, kualitasnya tetap bisa menurun akibat faktor lingkungan, hama, atau mikroorganisme. 

“Beras yang rusak bisa dipoles ulang. Namun, jika kerusakannya sudah parah, baik secara fisik, kimiawi, maupun mikrobiologis, maka tidak layak untuk dikonsumsi. Apalagi jika mengandung bahan kimia atau pengawet, bisa berbahaya untuk kesehatan, “ jelas Prof Tajjudin.

Ia mengungkapka ada tiga jenis beras oplosan yang sering beredar di masyarakat. 

Baca juga: Soal Beras Oplosan Food Station, Sugiyanto Minta Pramono Ambil Langkah Tegas

Pertama, beras campuran yang dicampur dengan bahan lain seperti jagung. Jenis ini secara umum ditemukan di beberapa daerah.

Kedua, beras 'blended atau campuran beberapa jenis beras untuk memperbaiki rasa dan tekstur. 

Ketiga, beras yang dicampur dengan bahan tidak lazim atau sudah rusak, kemudian dikilapkan atau dipoles ulang agar tampak bagus kembali, padahal mutunya sudah menurun.

Prof. Tajuddin mengajak masyarakat agar lebih cermat saat membeli beras dan waspada terhadap penipuan kualitas. 

Selain itu, perlu edukasi yang lebih luas agar masyarakat memahami dampak kesehatan dari mengonsumsi beras yang sudah rusak atau tercemar.

“Jika dikelola dengan baik, sebagai negara agraris, Indonesia seharusnya tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada distribusi dan konsumsi beras secara merata dan aman,” tandasnya.

 

Baca berita WartaKotalive.com lainnya di Google News dan WhatsApp

 

 
 

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved