Minggu, 12 April 2026

Perang Iran vs Israel

Gencatan Senjata Israel-Iran Diragukan Bertahan Lama, Perang Bisa Kembali Pecah?

Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan bahwa gencatan senjata hanyalah jeda yang diambil Israel dan Amerika Serikat (AS).

Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Sigit Nugroho
Instagram @luarbioskop
RAYAKAN GENCATAN SENJATA - Ribuan warga Iran memadati Lapangan Enghelab di Teheran pada Senin, 24 Juni 2025. Mereka berkumpul untuk merayakan diumumkannya gencatan senjata antara Iran dan Israel setelah 12 hari eskalasi militer. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perang antara Iran dan Israel berakhir dengan klaim kemenangan kedua belah pihak.

Meski perang telah berakhir setelah ada persetujuan gencatan senjata, namun masih menimbulkan tanda tanya besar apakah benar-benar selesai atau akan ada konflik susulan.

Banyak pihak yang meragukan gencatan senjata tersebut.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan bahwa gencatan senjata hanyalah jeda yang diambil Israel dan Amerika Serikat (AS).

Menurut Wijayanto, akan ada serangan susulan yang dilancarkan untuk membuat negara-negara di Timur Tengah tunduk kepada Israel dan AS.

"Gencatan senjata ini temporer saja sifatnya. Israel dan AS pasti akan memulai lagi suatu saat, hingga target mereka, yaitu pergantian pemimpin di Iran dan kehancuran program nuklir Iran," kata Wijayanto saat dihubungi Warta Kota, Jumat (27/6/2025).

Baca juga: Menhan Iran Kunjungi China Usai Gencatan Senjata

"Serangan Israel dan AS kemarin gagal mewujudkan itu. Israel memang ingin negara-negara di Timur Tengah tunduk pada kekuatannya," ujar Wijayanto.

Wijayanto menilai, pihak AS dan Israel menginginkan kehancuran politik dan ekonomi untuk negara-negara seperti Syiria, Irak, dan Libya.

Sehingga, perang adalah salah satu cara jitu yang dimanfaatkannya untuk mendominasi kawasan.

Tak hanya itu, dampak peperangan tersebut juga bisa meluas hingga berdampak pada negara-negara lain, termasuk Indonesia.

"Harga energi dan ketidakpastian global akan meningkat. Ini akan mengurangi investasi, memperburuk kondisi fiskal kita, menekan nilai tukar Rupiah dan memperlambat pertumbuhan ekonomi," pungkasnya.

Baca juga: Saat Peringati Tahun Baru Islam, Tentara Israel Serang Jalur Gaza, 14 Orang Tewas Jumat Pagi ini

Sementara itu, dilansir dari Aljazeera.com, Jumat (27/6/2025), Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu kini mengincar langkah-langkah yang lebih besar di seluruh wilayah. 

Dia bukan sekadar membebaskan tawanan Israel dari Gaza, bukan sekadar berniat menghancurkan Hamas, tetapi juga mengincar sesuatu yang lebih besar.

"Sesuatu yang dengan bantuan presiden AS, Netanyahu harapkan akan memperkuat warisan dan kedudukannya di kalangan sayap kanan di Israel," demikian yang dilaporkan Aljazeera.com, Jumat (27/6/2025).

"Yang sedang dibicarakan adalah lebih banyak kesepakatan normalisasi dengan negara-negara tetangga di wilayah tersebut - kesepakatan yang akan menjadikan penghentian perang di Gaza sebagai komponen daripada isu utama dalam upaya untuk bergerak maju," jelasnya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved