Sabtu, 9 Mei 2026

Polemik Tambang Nikel Mencuat, Sekjen BPP HIPMI: Jangan Termakan Framing Asing! 

Sekjen BPP HIPMI Anggawira, mengingatkan bahwa isu lingkungan kadang dijadikan alat tekanan oleh aktor asing.

Tayang:
dok. pribadi
POLEMIK TAMBANG NIKEL - Sekjen BPP HIPMI Anggawira menanggapi polemik tambang nikel yang terjadi di Pulau Gag, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Dia mengingatkan publik agar tidak termakan framing asing, karena banyak praktik tambang yang justru ramah lingkungan. 

Sebagai contoh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melalui Kaltim Prima Coal dan Arutmin aktif reklamasi dan konservasi biodiversity telah meraih Proper Hijau. 

Kemudian, PT Merdeka Copper Gold Tbk mengelola tambang emas dan tembaga berbasis pemberdayaan masyarakat dan transparansi. 

Lalu PT Vale Indonesia sukses melakukan revegetasi lahan pascatambang dan bangun smelter nikel. 

Berikutnya, PT Freeport Indonesia pionir tambang bawah tanah dan smelter Gresik. 

Baca juga: Bahlil Lahadalia: Aktivitas Tambang Nikel Raja Ampat Dihentikan! 

Baca juga: Anak Buah Bahlil Lahadalia Tegaskan Tak Temui Masalah Tambang Nikel di Pulau Gag 

PT Bukit Asam (PTBA) ubah bekas tambang jadi kawasan ekowisata dan pertanian produktif. 

"Tahun 2023, lebih dari 30 perusahaan tambang mendapat penghargaan Proper Hijau dan Emas dari Kementerian LHK," pungkasnya. 

Diketahui, Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu merespons soal ancaman kerusakan wisata alam di Pulau Piaynemo Raja Ampat akibat eksplorasi tambang nikel di Pulau Gag. 

Di hadapan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia, Kambu memberi kesaksian bahwa kabar adanya kerusakan wisata itu adalah hoaks, karena lokasinya tidak berdekatan. 

Kambu mengaku, sudah meninjau lokasi Pulau Gag dan Pulau Piaynemo untuk melihat wisata Raja Ampat dan lokasi tambang nikel dengan Menteri Bahlil pada Sabtu (7/6/2025). 

Dia menjelaskan, warna air di sana jernih yaitu biru bukan cokelat seperti perairan lainnya. 

"Tadi kami sudah sampai di Pulau Gag, laut itu kan (warnanya) cokelat tapi kami ke sana tadi biru. Terus informasi Pulau Piaynemo itu jauh dari Gag," ujar Kambu yang dikutip dari akun X (Twiter) Wong Djowo pada Minggu (8/6/2025). 

Kambu mengatakan, lokasi tambang nikel di Pulau Gag cukup bagus dan memenuhi syarat lingkungan yang ada. 

Meski di sana terdapat eksplorasi tambang, tapi di lokasi itu juga dilakukan reboisasi dan reklamasi sebagai tanggung jawab pelaksana proyek. 

"Kewajiban itu sudah dipenuhi, sampai pelabuhan penguatan itu juga, itu airnya biru semua. Jadi pemberitaan itu (kerusakan lingkungan) adalah hoaks, kami pastikan mungkin video itu bukan dari Gag, bukan dari Piaynemo tapi tempat lain," jelas Kambu. 

"Mereka (perekam) ambil dari mana, kami juga tidak tahu tapi yang pasti bukan dari penambangan di Pulau Gag," lanjut Kambu. 

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved