Minggu, 19 April 2026

Dijuluki 'Mulyono Jilid II', Begini Tanggapan Dedi Mulyadi

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi sebutan atau julukan 'Mulyono Jilid II' yang disematkan kepadanya.

Editor: Sigit Nugroho
Foto arsip 2 Mei 2025, Tribunjabar.id/Hilman Kamaludin
TANGGAPAN DEDI MULYADI - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi sebutan atau julukan 'Mulyono Jilid II' yang disematkan kepadanya. 

Dedi Mulyadi menilai, warga Jawa Barat akan selalu mencintainya.

Lalu, Dedi Mulyadi menantang para buzzer untuk kembali membuat konten negatif soal dirinya.

"Bagi saya enggak ada masalah. Terima kasih telah berupaya menggiring opini agar saya dibenci oleh warga," jelas Dedi Mulyadi.

"Salam untuk para buzzer tetap semangat, bikin konten negatif sebanyak-banyaknya tentang saya, agar bapak dan ibu bisa ngebul dapurnya," imbuhnya.

Baca juga: Dipanggil Kluivert Bela Timnas, Mertua Minta Dedi Mulyadi Masukkan Pratama Arhan ke Barak Militer

Perbedaan KDM dan Jokowi

Sementara itu, pengamat politik Burhanuddin Muhtadi melihat perbedaan antara Dedi Mulyadi dan Jokowi.

"Sebenarnya kalau menyebut seorang KDM (Kang Dedi Mulyadi) versi lain dari Jokowi, Jokowi versi 2.0 itu enggak seluruhnya benar juga sih," kata Burhanuddin Muhtadi saat bicara di program On Point with Adisty, Youtube Kompas TV, tayang Sabtu (10/5/2025).

Pria yang akrab dipanggil Burhan itu menyebut, Dedi Mulyadi sangat artikulatif, sedangkan Jokowi tidak.

Dedi Mulyadi bisa menghadapi masalah dengan berdialog, diskusi hingga berdebat.

Burhan menyontohkan salah satu peristiwa yang membuat nama Dedi Mulyadi populer di Purwakarta.

Saat itu dia menjabat anggota DPRD Purwakarta (1999-2004).

Setelahnya, ia menjadi Wakil Bupati dan Bupati Purwakarta.

"Kalau kita lihat jejaknya KDM ini, misalnya waktu dia menjadi anggota DPRD Purwakarta, waktu itu Purwakarta penuh dengan demo buruh," terang Burhan.

Baca juga: Siapa Pimpinan Minta RIDO tak Gugat ke MK? Burhanuddin Muhtadi: Beliau Nyaman dengan Pramono Anung

"Ketika koleganya dari anggota DPRD Purwakarta tidak mau menemui demo-demo buruh, dia temuin. Ramai terjadi perdebatan sangat sengit gitu ya, tetapi setelah demo itu dia justru populer karena berani mendebat dan sekaligus mengajak dialog mereka yang kontrak," tutur Burhan.

"Setelah itu, dia maju sebagai kepala daerah kan dan sukses," ucap Burhan.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved