Selasa, 2 Juni 2026

Master Bagasi Patahkan Stigma soal Kinerja Gen Z yang Tak Memuaskan

Kini, aplikasi Master Bagasi telah diunduh lebih dari 20.000 kali dan memenuhi secara rutin kebutuhan belanja diaspora Indonesia

Tayang:
Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Feryanto Hadi
Ist
Ilustrasi Generasi Z yang berkolaborasi dengan Master Bagasi 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sebanyak 75 persen perusahaan yang disurvei oleh lembaga Intelligent terungkap, telah memecat lulusan baru yang direktrut tahun ini.

Alasannya beragam, mulai kinerja yang tidak memuaskan, kurangnya inisiatif, profesionalisme, kemampuan memecahkan masalah hingga minim ketrampilan komunikasi yang baik. 

Laporan tersebut semakin memperkuat stigma negatif Gen Z dalam dunia kerja. Namun, fenomena tersebut berbanding terbalik dengan kondisi di startup cross border e-commerce pertama buatan bangsa Indonesia, Master Bagasi.

Founder & CEO Master Bagasi, Amir Hamzah mengatakan, sejak pertama kali dibentuk tahun 2021, semua tim yang terlibat di Master Bagasi adalah Gen Z. Bahkan sampai korporasi ini berkembang, karyawan Master Bagasi masih didominasi oleh Gen Z.

“Hingga sekarang, jumlah tim dari anak-anak muda usia 20-an tahun itu, terus bertahan bahkan bertambah,” ujar Hamzah dari keterangannya, Kamis (31/10/2024).

Menurut Hamzah, pegawai atau people (orang) adalah bagian penting dalam menjaga fundamentas bisnis perusahaan.

Hal itu, Hamzah rasakan sejak kali pertama berinteraksi bersama Gen Z membesarkan Master Bagasi yang akses marketnya sudah menembus lebih dari 100 negara tersebut.

Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu berujar, salah satu kuncinya ada pada penerapan core values “learn, build & deliver” perusahaan.

Core values itu menjadi semangat dan DNA seluruh tim dalam membangun entitas usaha yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.

Kini, aplikasi Master Bagasi telah diunduh lebih dari 20.000 kali dan memenuhi secara rutin kebutuhan belanja diaspora Indonesia.

“Learn artinya kita saling belajar dan mencari peluang untuk terus tumbuh bersama. Build artinya menerapkan ilmu-ilmu baru yang dipelajari dalam berbagai ide, produk dan solusi. Selanjutnya adalah deliver. Kami memastikan bahwa apa pun yang kami hasilkan memiliki dampak positif dan berguna bagi orang lain,” jelas Hamzah.

Penerapan core values itu diakui Hamzah sangat berdampak pada fundamental bisnis dan reputasi perusahaan yang telah dipercaya oleh market Diaspora Indonesia di dunia.

Kiprah Gen Z di Master Bagasi menjadi catatan tersendiri bahwa tidak semua Gen Z bereputasi negatif di dunia kerja. “Semua tergantung bagaimana cara pemilik perusahaan mengelolanya saja. Saya termasuk tim awal dari Gen Z yang ikut membangun Master Bagasi,” jelas Co-Founder Master Bagasi, Enzelia Trigati Mulyarini.

Enzy melanjutkan tentang Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober setiap tahunnya. Baginya, pelaku sejarah Sumpah Pemuda adalah anak-anak muda yang saat itu usia belasan dan dua puluhan tahun. 

“Spirit mereka harus jadi inspirasi dan motivasi bagi kita anak-anak Gen Z untuk terlibat aktif di berbagai bidang yang kita tekuni, termasuk berkiprah dalam membangun ekosistem digital diaspora Indonesia,” lanjut Enzy.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved