Rabu, 29 April 2026

Gempa Bumi

BPBD DKI Ingatkan Gempa Megathrust Bukan Bencana Biasa, Ini yang Harus Dilakukan Bila Terjadi

Gempa Megathrust Ditegaskan BPBD DKI Jakarta Bukanlah Bencana Biasa, Ini yang Harus Dilakukan Apabila Bencana Alam itu Terjadi

Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Dwi Rizki
Kompas.com
Peta Megathrust atau lempeng tektonik Indo-Australia 

Yohan menjelaskan, megathrust adalah jenis patahan tektonik yang terbentuk di zona subduksi, di mana satu lempeng tektonik menyusup di bawah lempeng lainnya.

Patahan ini terjadi di batas lempeng konvergen, terutama antara lempeng samudera dan lempeng benua.

“Gempa megathrust umumnya sangat kuat dan sering kali berkekuatan besar (magnitudo 8 atau lebih), karena pergeseran yang terjadi di sepanjang patahan ini melibatkan area yang sangat luas dan melepaskan energi yang besar,” ungkapnya.

“Gempa besar yang terjadi di zona subduksi lempeng tektonik, di mana satu lempeng bumi menyusup di bawah lempeng lainnya,” lanjut Yohan.

Dia menambahkan, kota-kota pesisir di sekitar Jakarta, seperti Banten dan Anyer, lebih berisiko terkena dampak langsung dari tsunami.

“Sejarah megathrust berkaitan dengan gempa besar, terjadi di zona subduksi lempeng tektonik Indo-Australia,” pungkasnya. 

Gempa Jawa Barat

Seperti diketahui gempa bumi berkekuatan magnitudo M 5,0 terjadi di wilayah Kabupaten Bandung dan Garut, Jawa Barat, Rabu (18/9) pagi.

BMKG melansir gempa itu terjadi pukul 9.41 WIB. BMKG mencatat episentrum gempa itu berada sekitar 24 kilometer tenggara Kabupaten Bandung dan 21 kilometer Barat Daya Kabupaten Garut.

Dikutip dari Tribun Jabar, gempa bumi yang melanda Kabupaten Bandung pada 18 September 2024 pukul 09:41:08 WIB, menimbulkan kerusakan parah sejumlah bangunan di Kertasari dan Pangalengan.

Badan Geologi pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pun menjabarkan penyebab gempa berkekuatan Magnitudo 5.0 tersebut bisa merusak begitu banyak bangunan di Kabupaten Bandung.

Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, mengatakan wilayah terdampak gempa tersebut pada umumnya tersusun oleh morfologi dataran bergelombang dan perbukitan bergelombang hingga terjal.

Berdasarkan data Badan Geologi, wilayah ini dominan tersusun oleh tanah sedang (kelas D) pada dataran bergelombang, serta tanah keras (kelas C) pada morfologi perbukitan.

Hal ini memperlihatkan daerah di sekitar pusat gempa bumi pada umumnya tersusun oleh batuan berumur Kuarter (batuan sedimen dan batuan gunungapi). Sebagian batuan Kuarter tersebut telah mengalami pelapukan.

"Batuan yang telah mengalami pelapukan pada umumnya bersifat lepas, urai, tidak terkonsolidasi dan memperkuat efek guncangan gempa bumi," kata Wafid melalui siaran digital.

Sumber: WartaKota
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved