Kesehatan
Periode Emas Penanganan Stroke Hanya 4,5 Jam, Mampu Kurangi Risiko Kematian dan Cacat Permanen
Periode emas penanganan pasien stroke hanya 4,5 jam, mampu kurangi risiko kematian dan cacat permanen.
Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Mochamad Dipa Anggara
Saat pasien yang mengalami stroke dan terdeteksi adanya atrial fibrilasi, maka dokter akan melakukan tindakan ablasi setelah lima hari masa akut stroke, untuk menghentikan gumpalan darah yang terbentuk di salah satu ruang di serambi kiri jantung, karena menyebabkan disabilitas pasien seperti tidak bisa menelan dan bergerak meski sudah lama sembuh dari stroke.
Pasien stroke karena atrial fibrilasi harus ditangani dengan mengendalikan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, obesitas, umur, gangguan tidur, dan konsumsi alkohol berlebihan agar tidak menyebabkan stroke iskemik.
“Kebanyakan faktor risiko yang menyertai itu adalah hipertensi, jadi harus menjadi satu perhatian supaya stroke ini kemudian tidak berkembang dan atrial fibrilasi tidak menyebabkan stroke di kemudian hari,” katanya.
Usia 40 sampai 65 tahun alami atrial fibrilasi
Yoga menyebutkan, banyak pasien yang mengalami atrial fibrilasi di Indonesia masih berusia produktif yakni sekitar usia 40 sampai 65 tahun.
“Pasien AF kita paling tinggi itu usia 40 sampai 65, ini artinya apa? Ini adalah manusia-manusia produktif yang berada di puncak karir dan mereka adalah para kepala keluarga, bayangkan kalau manusia-manusia ini mengalami stroke,” ucapnya.
Sementara, Dokter Spesialis Neurologi Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Peter Gunawan Ng, SpN, FAf Neurologie (DE) menjelaskan, gejala aritmia tidak boleh dianggap remeh karena gangguan irama jantung dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi serius, seperti pembekuan darah di jantung dan emboli yang menyumbat pembuluh darah di otak yang memicu stroke.
"Oleh karena itu istilah “Time is Brain” memang dapat dapat dibuktikan dengan mengukur waktu," ungkap dr. Peter.
Sejak tahun 2013, lanjutnya, Siloam Hospitals TB Simatupang selalu berupaya menyesuaikan regulasi penanganan pasien stroke, terutama untuk mengoptimalkan waktu penanganan.
Saat ini, dengan fasilitas dan keahlian seluruh tim ahli di Siloam Hospitals TB Simatupang mampu mengurangi door to needle time dari 75 menit ke 37 menit.
"Artinya, Siloam Hospitals TB Simatupang dapat mengurangi 38 menit dari waktu penanganan stroke pada umumnya," sebut dr. Peter.
Terapi trombolitik
Adapun terapi trombolitik akan mengurangi kecacatan sedang hingga berat, sampai 30 persen. Tindakan prosedur trombolitik dapat dilakukan setelah pasien melakukan pemeriksaan diagnostic, yaitu CT-Scan, dan dapat dilanjutkan terapi trombolitik bila dinyatakan stroke dengan sumbatan.
Selain penanganan pada pasien stroke, para penyintas stroke mungkin memerlukan perawatan dengan obat-obatan seumur hidup, rehabilitasi, dan dukungan pengasuh untuk mencapai hasil kesehatan yang optimal.
"Komponen penting dari perawatan jangka panjang pasien stroke adalah penanganan gejala sisa seperti kesulitan menelan, depresi, dan spastisitas," tandas dr. Peter.
| Kapan Anak Perlu Suplemen Zat Besi? Ini Penjelasan Dokter |
|
|---|
| Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Gejala Varises dan Tangani Sebelum Terlambat |
|
|---|
| Faktor Genetik Pengaruhi Risiko Jantung dan Tekanan Darah Tinggi |
|
|---|
| Ketum PERDOSRI: Pentingnya Perubahan Paradigma Layanan Kesehatan Menuju Pemulihan Fungsi |
|
|---|
| IDAI Rilis Panduan Mudik Sehat Bersama Anak, Vaksinasi Jadi Prioritas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Simulasi-penanganan-pasien-stroke.jpg)