Kesehatan
Periode Emas Penanganan Stroke Hanya 4,5 Jam, Mampu Kurangi Risiko Kematian dan Cacat Permanen
Periode emas penanganan pasien stroke hanya 4,5 jam, mampu kurangi risiko kematian dan cacat permanen.
Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Mochamad Dipa Anggara
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Stroke menempati peringkat kedua penyebab kematian di seluruh dunia dan merupakan salah satu penyebab utama kecacatan, sehingga menimbulkan beban ekonomi yang signifikan.
Melihat kondisi ini, dibutuhkan komitmen untuk memberikan penanganan stroke yang cepat dan efektif di Indonesia.
Salah satu bentuk penanganan stroke yang cepat dan efektif adalah melalui layanan 'Stroke Ready Hospital' yang dihadirkan Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta Selatan.
CEO Siloam Hospitals TB Simatupang, Mada Shinta Dewi mengatakan, dalam pengenalan 'Stroke Ready Hospital', Siloam Hospitals TB Simatupang mengusung tagline “Right from the Start”.
"Tagline ini menyiratkan pentingnya penanganan stroke sejak dini untuk meminimalkan risiko kecacatan permanen," ungkap Mada saat peluncuran layanan 'Stroke Ready Hospital' di Siloam Hospitals TB Simatupang , Jakarta Selatan, Kamis (15/8/2024).
Mada menambahkan, dengan hadirnya layanan 'Stroke Ready Hospital' sekaligus mengingatkan masyarakat untuk memilih rumah sakit yang tepat, penanganan yang akurat, dalam waktu yang cepat, agar gangguan motorik yang dialami pasien stroke cepat pulih dengan singkat.
Periode emas 4,5 jam
Ia juga menyebutkan, periode emas untuk mengurangi risiko kematian dan kecacatan permanen yang disebabkan oleh stroke adalah 4,5 jam.
"Oleh sebab itu, pasien stroke harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit yang tepat," ucapnya.
"Selain itu, kurangnya pengenalan tanda-tanda peringatan stroke merupakan faktor penyebab penting dari keterlambatan pelaporan stroke di rumah sakit," tambahnya.
Di sisi lain, Guru besar bidang Aritmia Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi Sp.JP(K) FIHA FAsCC mengatakan, seseorang yang mengalami gangguan irama jantung atau atrial fibrilasi (AF) memiliki lima kali lipat lebih berisiko terserang stroke sumbatan atau iskemik.
"Atrial fibrilasi satu kelainan irama jantung yang paling sering ditemukan pada seseorang itu ternyata adalah satu kelainan irama yang menjadi penyebab tersering terbentuknya cardio emboli yang kemudian menyebabkan iskemik stroke,” kata Prof Yoga dalam kesempatan yang sama.
Yoga mengatakan pasien yang mengalami atrial fibrilasi, membentuk gumpalan darah atau kardio emboli dari serambi kiri jantung. Jika gumpalan tersebut dipompa oleh jantung, maka akan menyangkut di pembuluh darah besar terutama di pangkal pembuluh otak.
Adapun stroke iskemik karena darah yang tidak bisa mengalir dengan lancar ke otak, akan menyebabkan disabilitas yang lebih besar dibandingkan dengan stroke yang tidak mengalami atrial fibrilasi.
“Mortalitas 30 hari, mortalitas 1 tahun dan dependensi yang berat setelah 1 tahun pada stroke yang related dengan AF itu jauh lebih tinggi lebih bahaya, lebih parah dibandingkan yang tidak mengalami atrial fibrilasi,” jelas Prof Yoga.
| Faktor Genetik Pengaruhi Risiko Jantung dan Tekanan Darah Tinggi |
|
|---|
| Ketum PERDOSRI: Pentingnya Perubahan Paradigma Layanan Kesehatan Menuju Pemulihan Fungsi |
|
|---|
| IDAI Rilis Panduan Mudik Sehat Bersama Anak, Vaksinasi Jadi Prioritas |
|
|---|
| Buku Saku 'Ngrumat' Diterbitkan, Terobosan Puskesmas Tanpa Dinding untuk Menjamah Pasien Tersisihkan |
|
|---|
| Masalah Kesehatan Perempuan Tak Hanya Reproduksi, Perlu Penanganan Menyeluruh Secara Holistik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Simulasi-penanganan-pasien-stroke.jpg)