Rabu, 22 April 2026

Kesehatan

Periode Emas Penanganan Stroke Hanya 4,5 Jam, Mampu Kurangi Risiko Kematian dan Cacat Permanen

Periode emas penanganan pasien stroke hanya 4,5 jam, mampu kurangi risiko kematian dan cacat permanen.

|
Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Mochamad Dipa Anggara
dok. Siloam Hospitals TB Simatupang
Para petugas medis di Siloam Hospitals TB Simatupang melakukan simulasi penanganan pasien stroke di ruang CT Scan, saat pengenalan layanan 'Stroke Ready Hospital' yang dihadirkan Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta Selatan, Kamis (15/8/2024). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Stroke menempati peringkat kedua penyebab kematian di seluruh dunia dan merupakan salah satu penyebab utama kecacatan, sehingga menimbulkan beban ekonomi yang signifikan. 

Melihat kondisi ini, dibutuhkan komitmen untuk memberikan penanganan stroke yang cepat dan efektif di Indonesia. 

Salah satu bentuk penanganan stroke yang cepat dan efektif adalah melalui layanan 'Stroke Ready Hospital' yang dihadirkan Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta Selatan.

CEO Siloam Hospitals TB Simatupang, Mada Shinta Dewi mengatakan, dalam pengenalan 'Stroke Ready Hospital', Siloam Hospitals TB Simatupang mengusung tagline “Right from the Start”. 

"Tagline ini menyiratkan pentingnya penanganan stroke sejak dini untuk meminimalkan risiko kecacatan permanen," ungkap Mada saat peluncuran layanan 'Stroke Ready Hospital' di Siloam Hospitals TB Simatupang , Jakarta Selatan, Kamis (15/8/2024).

Mada menambahkan, dengan hadirnya layanan 'Stroke Ready Hospital' sekaligus mengingatkan masyarakat untuk memilih rumah sakit yang tepat, penanganan yang akurat, dalam waktu yang cepat, agar gangguan motorik yang dialami pasien stroke cepat pulih dengan singkat. 

Periode emas 4,5 jam

Ia juga menyebutkan, periode emas untuk mengurangi risiko kematian dan kecacatan permanen yang disebabkan oleh stroke adalah 4,5 jam. 

"Oleh sebab itu, pasien stroke harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit yang tepat," ucapnya.

"Selain itu, kurangnya pengenalan tanda-tanda peringatan stroke merupakan faktor penyebab penting dari keterlambatan pelaporan stroke di rumah sakit," tambahnya.

Di sisi lain, Guru besar bidang Aritmia Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi Sp.JP(K) FIHA FAsCC mengatakan, seseorang yang mengalami gangguan irama jantung atau atrial fibrilasi (AF) memiliki lima kali lipat lebih berisiko terserang stroke sumbatan atau iskemik.

"Atrial fibrilasi satu kelainan irama jantung yang paling sering ditemukan pada seseorang itu ternyata adalah satu kelainan irama yang menjadi penyebab tersering terbentuknya cardio emboli yang kemudian menyebabkan iskemik stroke,” kata Prof Yoga dalam kesempatan yang sama.

Yoga mengatakan pasien yang mengalami atrial fibrilasi, membentuk gumpalan darah atau kardio emboli dari serambi kiri jantung. Jika gumpalan tersebut dipompa oleh jantung, maka akan menyangkut di pembuluh darah besar terutama di pangkal pembuluh otak.

Adapun stroke iskemik karena darah yang tidak bisa mengalir dengan lancar ke otak, akan menyebabkan disabilitas yang lebih besar dibandingkan dengan stroke yang tidak mengalami atrial fibrilasi.

“Mortalitas 30 hari, mortalitas 1 tahun dan dependensi yang berat setelah 1 tahun pada stroke yang related dengan AF itu jauh lebih tinggi lebih bahaya, lebih parah dibandingkan yang tidak mengalami atrial fibrilasi,” jelas Prof Yoga.

Saat pasien yang mengalami stroke dan terdeteksi adanya atrial fibrilasi, maka dokter akan melakukan tindakan ablasi setelah lima hari masa akut stroke, untuk menghentikan gumpalan darah yang terbentuk di salah satu ruang di serambi kiri jantung, karena menyebabkan disabilitas pasien seperti tidak bisa menelan dan bergerak meski sudah lama sembuh dari stroke.

Pasien stroke karena atrial fibrilasi harus ditangani dengan mengendalikan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, obesitas, umur, gangguan tidur, dan konsumsi alkohol berlebihan agar tidak menyebabkan stroke iskemik.

“Kebanyakan faktor risiko yang menyertai itu adalah hipertensi, jadi harus menjadi satu perhatian supaya stroke ini kemudian tidak berkembang dan atrial fibrilasi tidak menyebabkan stroke di kemudian hari,” katanya.

Usia 40 sampai 65 tahun alami atrial fibrilasi

Yoga menyebutkan, banyak pasien yang mengalami atrial fibrilasi di Indonesia masih berusia produktif yakni sekitar usia 40 sampai 65 tahun.

“Pasien AF kita paling tinggi itu usia 40 sampai 65, ini artinya apa? Ini adalah manusia-manusia produktif yang berada di puncak karir dan mereka adalah para kepala keluarga, bayangkan kalau manusia-manusia ini mengalami stroke,” ucapnya.

Sementara,  Dokter Spesialis Neurologi Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Peter Gunawan Ng, SpN, FAf Neurologie (DE) menjelaskan, gejala aritmia tidak boleh dianggap remeh karena gangguan irama jantung dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi serius, seperti pembekuan darah di jantung dan emboli yang menyumbat pembuluh darah di otak yang memicu stroke

"Oleh karena itu istilah “Time is Brain” memang dapat dapat dibuktikan dengan mengukur waktu," ungkap dr. Peter.

Sejak tahun 2013, lanjutnya, Siloam Hospitals TB Simatupang selalu berupaya menyesuaikan regulasi penanganan pasien stroke, terutama untuk mengoptimalkan waktu penanganan. 

Saat ini, dengan fasilitas dan keahlian seluruh tim ahli di Siloam Hospitals TB Simatupang mampu mengurangi door to needle time dari 75 menit ke 37 menit.

"Artinya, Siloam Hospitals TB Simatupang dapat mengurangi 38 menit dari waktu penanganan stroke pada umumnya," sebut dr. Peter.

Terapi trombolitik

Adapun terapi trombolitik akan mengurangi kecacatan sedang hingga berat, sampai 30 persen. Tindakan prosedur trombolitik dapat dilakukan setelah pasien melakukan pemeriksaan diagnostic, yaitu CT-Scan, dan dapat dilanjutkan terapi trombolitik bila dinyatakan stroke dengan sumbatan.

Selain penanganan pada pasien stroke, para penyintas stroke mungkin memerlukan perawatan dengan obat-obatan seumur hidup, rehabilitasi, dan dukungan pengasuh untuk mencapai hasil kesehatan yang optimal.

"Komponen penting dari perawatan jangka panjang pasien stroke adalah penanganan gejala sisa seperti kesulitan menelan, depresi, dan spastisitas," tandas dr. Peter.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved