Senin, 13 April 2026

Berita Nasional

Ganjar, Hasto, Djarot Peringati 28 Tahun Kudatuli, PDIP: Bukan Ingatkan Luka, Tapi Rawat Ingatan

Sejumlah elit PDIP menghadiri peringatan ke-28 Kudatuli di DPP PDIP, mereka coba mengenang peristiwa kekerasan di era Presiden ke-2 Soeharto itu.

Penulis: Alfian Firmansyah | Editor: Valentino Verry
warta kota/alfian
Para kader PDIP memperingati ke-28 peristiwa berdarah Kudatuli di DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (27/7/2024). Mereka minta pemerintah tak pernah melupakan, karena ada indikasi pelanggaran HAM berat. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan (PDIP) memperingati 28 tahun peristiwa serangan kantor PDIP pada 27 Juli 1996 dengan penampilan teatrikal 'Kudatuli 27 Juli, Kami Tidak Lupa', Sabtu (27/7/2024) pagi.

Pantauan Wartakotalive.com dilokasi, terlihat sejak pukul 07.00 WIB, penampilan teatrikal 'Kudatuli 27 Juli, Kami Tidak Lupa' ini digelar di depan Kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro No. 58, Menteng, Jakarta Pusat.

Baca juga: PDIP Peringati 28 Tahun Peristiwa Kudatuli, Pakar Sebut Penguasa Gunakan Hukum untuk Alat Kekuasaan

Adapun acara tersebut diawali dengan penampilan pembacaan puisi oleh Sastrawan, Amien Kamiel.

“Pada hari ini kita sama-sama memperingati peristiwa 27 Juli 1996 adalah sebuah peristiwa bersejarah yang mana juga adalah sebuah tragedi kemanusiaan. Pada hari ini kita mencoba para martir yang telah rela mengorbankan nyawa, memperjuangkan hati nurani, salah satu korban pada peristiwa itu adalah seorang penyair yang bernama Wiji Thukul,” kata Amien Kamiel.

Dengan penuh semangat, Amien Kamiel membacakan puisi sajak puisi Widji Tukul Penguasa.

Kemudian, Tujuan Kita Satu Ibu, Sikap, dan yang terakhir Sajak Suara.

Menutup puisinya, dia pun menyerukan Mega Pasti Menang.

Baca juga: PDI-P: Kudatuli Jalan Bagi Jokowi Bisa Jadi Presiden

“Mega Pasti Menang, Mega Pasti Menang. Merdeka,” seru Amien Kamiel.

Selanjutnya, kegiatan ini dilanjutkan dengan ratusan pemuda yang kompak mengenakan kaus merah dengan ikat kepala berwarna merah menyerbu kantor DPP PDIP.

Mereka tampak melakukan aksi teatrikal penyerangan Kantor DPP PDIP pada tahun 1996.

Lalu, penampilan drum band membuka aksi teaterikal, dan massa mempertunjukan aksi dengan melakukan penyerangan ke kantor DPP PDIP.

Mereka tampak membawa sejumlah alat-alat peraga seperti kayu dan batu.

Baca juga: Usman Hamid Minta Peristiwa Kudatuli Dibongkar Tuntas agar Peristiwa Serupa Tak Terulang

Massa juga mempertunjukan bagaimana peristiwa Kudatuli, dimana mereka mengoyang-goyangkan pagar Kantor Partai dan melempari kantor DPP PDIP menggunakan batu.

“Ini merupakan reka ulang kejadian pada 27 Juli 1996, dimana jam dan waktunya tepat, dimana pada saat itu terjadi penyerangan kantor DPP PDI saat itu. Dengan ini, kita tidak ingin membangkitkan luka. Namun kita cuma ingin merawat ingatan, yang mungkin masih traumatik bagi sebagian orang,” kata Kepala Badan Sejarah PDIP Bonnie Triyana.

“Tanpa peristiwa 27 Juli 1996, mungkin tidak akan ada reformasi 1997-1998; mungkin tidak akan ada pemilihan presiden secara langsung, tidak ada kesempatan buat seseorang bermimpi menjadi pejabat tinggi walau dari keluarga sederhana,” tandas Bonnie.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved