Senin, 13 April 2026

Berita Nasional

PDI-P: Kudatuli Jalan Bagi Jokowi Bisa Jadi Presiden

Ribka Tjiptaning menegaskan, bahwa tanpa adanya peristiwa Kudatuli atau kerusuhan 27 Juli 1996 tak mungkin anak tukang kayu Jokowi jadi presiden

Penulis: Alfian Firmansyah | Editor: Budi Sam Law Malau
Wartakotalive.com/ Alfian Firmansyah
Kudatuli. Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Ribka Tjiptaning menegaskan, bahwa tanpa adanya peristiwa Kudatuli atau kerusuhan 27 Juli 1996, tidak akan lahir Reformasi yang membawa Indonesia pada demokrasi serta kebebasan pers hingga saat ini. Menurutnya, Kudatuli menjadi pemantik lahirnya iklim demokrasi sekaligus mengakhiri hegemoni Presiden Soeharto dan memungkinkan atau membuka jalan Jokowi menjadi Presiden 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Ribka Tjiptaning menegaskan, bahwa tanpa adanya peristiwa Kudatuli atau kerusuhan 27 Juli 1996, tidak akan lahir Reformasi yang membawa Indonesia pada demokrasi serta kebebasan pers hingga saat ini. 

Menurutnya, Kudatuli menjadi pemantik lahirnya iklim demokrasi sekaligus mengakhiri hegemoni Presiden Soeharto.

Hal itu disampaikan Ribka Tjiptaning saat PDIP menggelar diskusi “Kudatuli, Kami Tidak Lupa” di Gedung DPP PDIP, Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/7/2024).

"Kalau tidak ada Kudatuli tidak ada reformasi," tutur Ribka. 

Kata Ribka, Kudatuli merupakan peristiwa pengambilalihan paksa Kantor DPP PDI yang dikuasai Megawati Soekarnoputri oleh massa pendukung, Soerjadi. 

"Kalau tidak ada Reformasi tidak ada anak buruh bisa jadi gubernur, tidak ada Reformasi tidak ada anak petani bisa jadi bupati, wali kota, tidak ada Reformasi tidak ada anak tukang kayu jadi presiden," tuturnya. 

Baca juga: Peringatan Tragedi Kudatuli 27 Juli 1996, Megawati Yakin Bukan Peristiwa Biasa

Ribka berujar, hingga 28 tahun berselang pengorbanan sejumlah elemen masyarakat dalam memperjuangkan demokrasi kala itu kini telah dinikmati banyak pihak. Termasuk Jokowi dan keluarganya.

"Dulu yang bisa jadi pejabat dari RT, RW, lurah, camat itu pasti Golkar, tapi karena ada peristiwa 27 juli, Reformasi maka ada satu perubahan yang dahsyat yaitu bisa semua anak rakyat mimpinya bisa tercapai,"  ucapnya. 

Selanjutnya Ribka mengingatkan, sebelum Tragedi Kudatuli ada Tragedi Gambir. 

Ia tidak ingin tragedi kekerasan ini luput juga dari ingatan rakyat. 

Artinya, reformasi tidak berdiri tunggal, ada banyak rentetan peristiwa sebelumnya yang berasal dari kekuatan rakyat melawan rezim otoriter Soeharto yang telah berkuasa 32 tahun.  

“Kita udah digebuk duluan di Gambir. Saya ingat betul saya diselamatkan Pak Pangat Ketua DPC Jakarta Barat walaupun dimasukin taksi, taksinya juga diancurin digebukin macam-macam itulah dulu rezim Soeharto,” pungkasnya.

Baca juga: Usman Hamid Minta Peristiwa Kudatuli Dibongkar Tuntas agar Peristiwa Serupa Tak Terulang

Sebagai informasi, dalam diskusi tersebut turut hadir Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Mantan Aktivis Gerakan Reformasi Partai Rakyat Demokratik (PRD) Wilson Obrigados, jajaran DPP PDIP seperti Sri Rahayu, Yuke Yurike, Bonnie Triyana, serta para organ sayap partai. 

Kemudian Ketua Umum Repdem Wanto Sugito, dan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri hadir melalui daring.

Pantauan Wartakotalive.com dilokasi, terlihat diskusi publik dimoderatori oleh sejarawan sekaligus Ketua DPP PDIP, Bonnie Triyana.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved