Rabu, 15 April 2026

Pasar Terbesar Kripto di Asia Tengah dan Selatan, Aset di India Mencapai 268 Miliar Dolar AS

Diketahui kripto berawal dengan Bitcoin pada tahun 2009. Saat Bitcoin menjadi makin populer, mata uang lain, seperti Namecoin dan Litecoin di tahun 20

Editor: Ahmad Sabran
Pexels/Worldspectrum
ILUSTRASI Mata uang kripto 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-  Dunia kripto dihebohkan dengan halving Bitcoin(BTC) dalam empat tahun sekali.

Potongan 50 persen atau Halving yang terjadi di bulan Mei 2020 lalu ternyata berbanding terbalik dengan saat ini justru terjadi peningkatan besar-besaran pada transaksi BTC, yang didorong oleh bertumbuhnya adopsi dan keterlibatan komunitas.

Tren ini membawa manfaat bagi keseluruhan lanskap kripto. Halving keempat dan yang terbaru terjadi pada hari Jumat(19/4/2024) lalu dengan jumlah bitcoin yang dibuat setiap 10 menit sekali turun ke 3,125.

Yang membedakan halving tersebut dengan yang lain adalah meningkatnya keterlibatan institusional sejak 2020, disertai dengan integrasi produk-produk keuangan tradisional seperti ETF.

Hal ini, bersama dengan berkurangnya hadiah blok dan makin banyaknya Bitcoin yang dipegang oleh para investor institusional jangka panjang, memicu pembahasan menyangkut guncangan pasokan.

Baca juga: 40 Ribu Nik KTP Sudah Dinonaktifkan, Heru Budi : Demi Aman dari Masalah Kriminalitas Perbankan

"Kita tidak bisa mengetahui segalanya mengenai masa depan kripto. Namun, untuk mendapatkan wawasan lebih luas, kita harus memahami konteksnya. Mari kita bahas penggunaan Bitcoin saat ini dan bagaimana kita bisa sampai di sini," kata Pengamat Pasar Finansial Octa, Kar Yong Ang dalam pernyataannya yang diterima Tribun, Sabtu(27/4/2024).

Diketahui kripto berawal dengan Bitcoin pada tahun 2009. Saat Bitcoin menjadi makin populer, mata uang lain, seperti Namecoin dan Litecoin di tahun 2011, memasuki pasar, dengan fitur uniknya masing-masing.


Kemajuan besar terjadi pada tahun 2015, ketika Ethereum dan kontrak pintar membuka pintu untuk aplikasi yang terdesentralisasi (dApps) dan tokenisasi aset.

Namun, maraknya ICO pada tahun 2017 juga membawa kekhawatiran mengenai penipuan dan regulasi, menyebabkan penurunan yang disebut Crypto Winter pada tahun 2018. Periode ini membawa masa ke penilaian ulang proyek-proyek blockchain, dan menyorot kebutuhan akan aplikasi praktis.

Baca juga: Buka Experience Store di Cilandak Town Square, OPPO Gelar Diskon Ponsel hingga 72 Persen

Pada tahun 2020, lanskap berubah dengan pertumbuhan finansial terdesentralisasi (decentralised finance atau DeFi), yang menyediakan layanan keuangan baru tanpa perantara tradisional. Hal ini menyebabkan kemunculan platform-platform seperti MakerDAO, Compound, dan Uniswap.

Pada tahun, terjadi lonjakan token non-fungible (NFT), yang menampilkan potensi blockchain dalam seni, barang koleksi, gaming, dan hiburan.

Tren ini mendapat perhatian masyarakat luas. Khususnya, NFT dari Beeple terjual dengan nilai yang memecahkan rekor sebesar $69 juta. Dengan perubahan ini, lembaga-lembaga seperti PayPal, Visa, dan Tesla makin menyambut terbuka mata uang kripto, dan ini adalah bukti peningkatan minat atas aset digital.

Makin banyak perusahaan mulai menerima kripto: Ralph Lauren, Microsoft, dan airBaltci melalui pembayaran online langsung; sementara Adidas, DoorDash, dan Chevron melalui kartu hadiah. Bitrefill bahkan melampaui batas ritel, mencakup kartu kredit, utilitas, pinjaman, layanan kesehatan, hipotek, dan banyak lagi.

Baca juga: Buka Experience Store di Cilandak Town Square, OPPO Gelar Diskon Ponsel hingga 72 Persen

Kemudian lanjut Kar Yong Ang pada tahun 2022, FTX, sebuah bursa kripto utama, bangkrut, menimbulkan keraguan di pasar. Namun, pada tahun 2023 pemulihan kuat terjadi, dengan melonjaknya nilai Bitcoin dan Ethereum, masing-masing lebih dari 160 persen dan dua kali lipat.

"Para investor seperti BlackRock dan Fodelity makin mendorong keyakinan, dan UE menyetujui beberapa regulasi kripto. Trend pembayaran kripto dan integrasi fintech," kata Kar Yong Ang.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved