Wabah DBD

Wabah DBD Mencekam, Ratusan Warga Karawang Jatuh Sakit, Dua Anak Meninggal Dunia

Wabah DBD di Jabodetabek kini makin mengerikan, orang yang terkena makin banyak, bahkan korban jiwa pun berjatuhan.

Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Valentino Verry
Antaranews.com
Ilustrasi pasien DBD - Wabah DBD di Karawang kian mencekam, jumlah korban jiwa pun cenderung bertambah. Karena itu perlu langkah antisipatif. 

WARTAKOTALIVE.COM, KARAWANG - Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang mencatat ada 655 kasus Demam Berdarah Dangue (DBD) hingga April 2024.

Dari jumlah itu terdapat dua anak meninggal dunia akibat DBD tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P), Yayuk Sri Rahayu menyampaikan 655 kasus DBD itu merupakan data dari awal Januari hingga April 2024.

Baca juga: Enam Orang di DKI Meninggal Akibat DBD, Heru Budi Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Rinciannya, 141 kasus pada Januari, 124 pada Februari, 233 pada Maret dengan 2 kasus meninggal dunia dan saat April ada sebanyak 157 kasus.

"Meninggal ada dua, usia 5 tahun dan 13 tahun. 5 tahun di daerah Purwasari dan 13 tahun di daerah Jomin," kata Yayuk di Karawang pada Kamis (25/4/2024).

Dia menjelaskan, kedua anak meninggal DBD itu karena telat dalam upaya penanganan medis. Seharusnya, untuk kasus DBD bisa segera dibawa ke rumah sakit guna penanganan cepat.

"Kalau dilihat dari kronologisnya, kedua kasus tersebut, ini masuk rumah sakitnya sudah agak terlambat, sehingga meninggal di rumah sakit," ujarnya.

Baca juga: Waspada Kasus DBD di Jakarta Meningkat, Sampai 15 April Sudah Ada 6 Orang Meninggal

Dia mengimbau masyarakat untuk dapat memperhatikan kebersihan lingkungan. Masa kritis untuk penyakit ini akan terjadi saat hari 5 hingga 7 hari.

Lalu, penerapan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) perlu perlu dilakukan di setiap rumah. Langkah ini dapat dilakukan dengan cara menutup penampungan air, membersihkan penampungan air dan memanfaatkan serta mengubur barang bekas.

"Lalu apabila sudah ada gejala segera langsung dibawa ke rumah sakit. Apabila terlambat ditangani, maka bisa tidak tertolong," katanya.

Nyamuk Aedes Aegypti penyebab utama penyakit demam berdarah dengue (DBD) ternyata aktif mencari mangsa di siang hari.

Baca juga: Jangan Panik Bila Kena DBD! Berikut Tips Pencegahan Agar Tak Terjadi Komplikasi hingga Kematian

Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Mary Liziawati, nyamuk ini cenderung aktif mencari makan pada siang hingga sore hari.

Untuk itu, masyarakat perlu waspada terutama saat beraktivitas baik di luar ruangan maupun di dalam ruangan.

“Karena Aedes Aegypti-kan nyamuk yang menggigit di siang hari atau siang menjelang sore,” kata Mary, Sabtu (20/4/2024).

“Jadi kemungkinan para penderita DBD ini gigitan nyamuknya pada saat beraktivitas,” sambungnya.

Mary menduga, anak-anak yang terjangkit DBD tergigit nyamuk Aedes Aegypti saat berada di lingkungan sekolah atau sedang bermain.

Kepala Dinkes Kota Depok Mary Liziawati minta masyarakat hati-hati saat beraktivitas di siang hari, karena nyamuk DBD menyerang saat itu.
Kepala Dinkes Kota Depok Mary Liziawati minta masyarakat hati-hati saat beraktivitas di siang hari, karena nyamuk DBD menyerang saat itu. (Warta Kota)

Sedangkan untuk orang dewasa perlu mewaspadai kondisi lingkungan kerja agar selalu bersih dan terhindar dari sarang nyamuk.

“Untuk anak-anak sekolah juga (digigit nyamuk) mungkin di lingkungan sekolah, para usia produktif mungkin saat kerja dan sebagainya,” ungkapnya.

Untuk menghindari DBD, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) perlu dilakukan di lingkungan tempat kerja maupun sekolah.

Kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Kota Depok, Jawa Barat terus mengalami peningkatan signifikan seiring dengan musim penghujan yang sedang berlangsung.

Kepala Dinkes Kota Depok, Mary Liziawati mencatat, jumlah pasien DBD pada Maret 2024 tembus di angka 723 orang.

Angka tersebut mengalami kenaikan hingga 100 persen dibandingkan bulan Februari 2024 yang hanya berjumlah 328 pasien.

Sedangkan untuk bulan April 2024, Dinkes Kota Depok masih melakukan penghitungan data pasien DBD.

“Di bulan maret itu ada penambahan yang naiknya cukup drastis, ini menjadi perhatian untuk kita semua,” kata Mary saat ditemui di Beji, Kamis (18/4/2024).

“Pada Januari kemarin, kita kasus 202, kemudian di Februari 328, dan ternyata di bulan Maret naik 723,” sambungnya.

Menurut Mary, dari ratusan kasus DBD yang terdata, 2 pasien dinyatakan meninggal dunia pada bulan Januari dan April 2024.

Usia pasien yang terjangkit DBD di wilayah Depok hampir menyeluruh mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Untuk itu, Mary menghimbau agar masyarakat lebih giat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus.

“Melakukan PSN pemberantasan sarang nyamuk dengan melakukan 3M plus, melakukan pemeriksaan jentik perkara secara rutin setiap pekan itu harus terus dijaga,” pungkasnya.

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News

Ikuti saluran WartaKotaLive.Com di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaYZ6CQFsn0dfcPLvk09

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved