Jumat, 15 Mei 2026

Pemilu 2024

Penyebaran Hoaks dalam Bentuk Audio Visual Berkembang Pesat di Momentum Pemilu 2024

Pada tahun 2022-2023 terpetakan bahwa isu hoaks didominasi isu politik

Tayang:
Editor: Feryanto Hadi
Istimewa
ILUSTRASI Hoaks (hoax) 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Penyebaran berita hoaks masih menjadi momok dalam perkembangan media digital, khususnya di momentum pemilu 2024 saat ini  

Hingga akhir Desember 2023, berdasarkan data dari Litbang Mafindo, sepanjang tahun 2023 ditemukan sebanyak 2.330 penyebaran hoaks dengan 1.292 hoaks terkait isu politik. 

Apabila dikerucutkan lagi, terdapat 646 isu yang berkaitan dengan pemilihan umum, yang baru selesai digelar pada 14 Februari 2024 lalu. 

Pemilihan umum untuk memilh presiden dan wakilnya, serta perwakilan masyarakat di parlemen lima tahun ke depan, menjadi pagelaran pesta demokrasi terbesar di dunia.

Sayangnya, hal ini tak lepas dari isu-isu miring yang lalu lalang di media, terutama digital. 

Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) menyelenggarakan Obral Obrol Literasi Digital, pada Jum'at, 16 Februari 2024 yang mengangkat topik "Pilah Pilih Berita, Cek Faktanya".

Pada pemilu kali ini, terjadi HLBK atau hoaks lama bersemi kembali seperti yang disampaikan Wakil Ketua Komite Pengembangan Mafindo SDM, Gushevinalti. 

Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) menyelenggarakan Obral Obrol Literasi Digital, pada Jum'at, 16 Februari 2024
Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) menyelenggarakan Obral Obrol Literasi Digital, pada Jum'at, 16 Februari 2024 (Ist)

Menurut Gusti, ritme hoaks terkait pemilu datang setiap lima tahun, sehingga hoaks yang pada pemilu tahun 2019 masih mungkin kembali muncul pada pemilu tahun ini.

Namun, kemunculan hoaks pada pemilu tahun 2024, bentuknya telah berkembang pesat, dan lebih dominan dalam bentuk audio visual. 

"Kalau dulu banyak sekali tentang teks atau narasi, kalau sekarang lebih banyak berkembang bentuk dari video dari foto yang memang sudah menggunakan kecanggihan teknologi seperti AI," ujar Gusti.

Berita hoaks sangat merugikan terutama dari sudut pandang media, seperti yang diungkapkan Jurnalis IDN Times, Ahmad Nuril Fahmi. 

Tugas media meluruskan berita dan menyampaikan berita dengan benar. 

Menurut Fahmi, hoaks mengikuti trend yang sedang berkembang dan mengikuti isu. 

Karena itu, masyarakat harus memahami bahwa hoaks dibuat dengan sengaja, yang terkadang dibuat oleh oknum dengan berbagai tujuan, seprti mencari popularitas dan menambah trafic pembaca.

"Apalagi di tahun politik sekarang ini, sentimen orang terhadap paslon atau pribadi sangat tinggi. Jadi terkadang kita nyebar atau share ada emosi yang terbawa juga," ujar Fahmi.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved