Senin, 20 April 2026

Pemilu 2024

Takut Nggak Dibayar, Onta Selektif Terima Orderan Kaos Kampanye dari Caleg

Jika tidak menyanggupi untuk membayar uang muka 85 persen, maka Onta tidak mau mengerjakan orderan tersebut.

Penulis: Miftahul Munir | Editor: Feryanto Hadi
Warta Kota/Miftahul Munir
Onta Oblong tempat Sablon kaos di Jalan Purimas Kelapa Dua Wetan, Jakarta Timur, Selasa (21/11/2023). 

Ia pun senang dengan Masinton Pasaribu karena mau menggunakan jasanya untuk membuat kaos.

Onta berharap, Masinton Pasaribu puas dengan hasil kaos buatannya untuk kebutuhan kampanye nanti.

"Saya kerja berempat, saya sih enggak terlalu cari ya, karena banyak yang minta ke saya tapi saya sortir saja," imbuhnya. 

Beralih ke kampanye digital

Euforia Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif 2024 belum terasa khususnya di wilayah DKI Jakarta.

Diketahui, Pasar Senen menjadi salah satu sentra penjualan atribut Pemilu terutama di kawasan Blok III.

Jelang masa kampanye yang tinggal hitungan hari atau satu pekan lagi, para pedagang mengaku masih sepi pesanan.

Pengamat Ekonomi sekaligus Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira buka suara terkait hal itu.

Dia membeberkan alasan masih sepinya peminat atribut kampanye.

Baca juga: Parpol dan Caleg Cueki Imbauan Bawaslu, Alat Peraga Kampanye Masih Banyak Mejeng di Jakarta Barat

"Sekarang memang ada kecenderungan kenapa banyak keluhan di pelaku usaha atribut dan percetakan, mengapa sudah masuk pendaftaran Komisi Pemilihan Umum (KPU) misalnya untuk capres masih sepi minat untuk membeli atribut. Pertama ada pergeseran juga kampanyenya menggunakan kampanye digital sehingga percetakan dan atribut fisik jumlahnya tidak sebanyak Pemilu sebelumnya," ucap Bhima kepada Wartakotalive.com belum lama ini.

Selain mulai beralihnya kampanye digital, Bhima juga menyebut rekanan di partai yang memiliki bisnis atribut kampanye turut dimanfaatkan.

"Kedua itu memang ada kecenderungan juga misalnya saja di internal partai ada rekanan bisnis di bidang percetakan itu dia daripada mencetak di pelaku usaha lainnya ya di rekanan bisnisnya dan itu juga bisa berpengaruh terhadap persaingan di pasar percetakan dan atribut Pemilu," jelas dia.

Bhima menjelaskan, ketimbang memasang atribut, peserta kampanye lebih memilih untuk memberikan sembako atau uang tunai untuk menarik dukungan kepada masyarakat.

"Ketiga memang dipasang baliho itu ada tetap cuma banyak juga yang memilih untuk menyimpan uang mempersiapkan politik uang atau bagian-bagi sembako, bagi-bagi uang tunai yang dipikir jauh lebih efektif dibandingkan mencetak atribut Pemilu," ungkapnya.

"Apalagi kondisi sekarang masyakarat menghadapi tekanan ekonomi khususnya masyakarat bawah sehingga atribut Pemilu belum terlalu efektif daripada bagi-bagi sembako," tambah Bhima.

Sumber: WartaKota
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved