Penembakan

Kronologi Pendekar PSHT Tewas Ditembak saat Sedang Latihan Silat, Peluru Tepat Mengenai Kepala

Seorang pelajar SMP bernama Kendy Apdodis Nahak (15)  tewas ditembak menggunakan senapan angin saat sedang berlatih silat

|
Penulis: Feryanto Hadi | Editor: Feryanto Hadi
Tribunnews.com
Ilustrasi korban tewas. Seorang siswa SMP anggota PSHT tewas ditembak 

Dikutip dari Kompas.com, Sementara dua lainnya kini dalam pengejaran. Andi Rian meminta para pelaku yang masih kabur segera menyerahkan diri.

Diketahui, korban atas nama Sabriansyah mendapatkan surat kuasa dari pemilik tanah atas nama Muhammad Bin Saad, untuk menjaga lokasi tanah.

Lokasi tanah sendiri masih dalam proses gugatan di Pengadilan Negeri Martapura, Kemudian didatangi oleh pelaku 15 - 20 orang dengan menggunakan 5 unit mobil dan langsung mengejar korban kearah belakang rumah (kebun karet). 

Polres Banjar melakukan olah TKP kasus pembunuhan sadis terhadap lansia bernama Sabriansyah (60) di kebun karet Desa Mengkauk, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar pada Jumat (31/3/2023).
Polres Banjar melakukan olah TKP kasus pembunuhan sadis terhadap lansia bernama Sabriansyah (60) di kebun karet Desa Mengkauk, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar pada Jumat (31/3/2023). (Istimewa)

Sang pelaku melakukan pengejaran terhadap korban, di antara salah satu pelaku menembakan senjata api kurang lebih 5 kali, setelah itu korban ditemukan terdapat luka gorok pada leher dan luka tebas pada bagian kepala.  

Atas kejadian tersebut korban dibawa ke RS. Bhayangkara untuk dilakukan outopsi. Kasus ditangani Polres Banjar.

Sementara itu, menurut keterangan anak korban, Mahyuni (40), Sabriansyah tewas setelah dikeroyok oleh puluhan orang menggunakan senjata di lokasi kejadian.

Kronologi peristiwa itu menurut anak korban Mahyuni karena masalah lama dengan perusahaan batubara di wilayah tersebut terkait lahan. 

Korban yang mempunyai SHM lahan tersebut sejak tahun 2001 tidak pernah mendapatkan kompensasi ganti rugi atau apapun dari perusahaan itu.

Baca juga: Modus Licik Oknum Dosen di Buleleng Cabuli Mahasiswinya di Kamar Kos, Ngakunya Cuma Mau Membantu

Keluarga korban pun sudah beberapa kali berupaya meminta hak korban kepada perusahaan tapi selalu mendapatkan respon tak menyenangkan dari preman-preman bayaran perusahaan tersebut.

 “Dan hari ini tadi puncaknya, hari ini adalah yang kesekian kalinya kami ketemu sama tim mereka yang preman itu. Mereka datang dengan 5 buah mobil dan ada sekitar 30 orang,” ujarnya. 

Mereka datang sekitar pukul 11.00 Wita, lalu turun salah satu orang dari mereka yang paling tua mencari anak korban, Mahyuni.

“Kita ini keluarga mari kita bicarakan baik-baik, bagaimana kalau pemblokiran atau penguasaan fisik ini dibuka saja,” kata Mahyuni menirukan perkataan orang itu.

Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJateng.com

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved