Rabu, 22 April 2026

Pemilu 2024

PSI Gabung Koalisi Besar, Pengamat: Bukan Sesuatu yang Aneh, Sudah Bisa Ditebak

Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Ujang Komarudin menyebut dengan PSI bergabung di koalisi besar bukan hal yang aneh

Wartakotalive/Yolanda Putri Dewanti
Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Ujang Komarudin soal bergabungnya PSI 

WARTAKOTALIVE.COM JAKARTA -- Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memutuskan untuk bergabung dengan koalisi partai politik yang mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Adapun koalisi besar itu disebut-sebut beranggotakan partai politik dari Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang digagas Golkar, PAN serta PPP dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) yang dijajaki Gerindra-PKB.

Menanggapi hal itu, Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Ujang Komarudin menyebut dengan PSI bergabung di koalisi besar bukan hal yang aneh, tetapi hal tersebut sudah bisa ditebak.

"PSI ikut Jokowi, ikut koalisi pemerintah jadi kalau Jokowi dukung Ganjar, dia juga dukung Ganjar itu enggak aneh. Lihat saja dulu pas Jokowi dukung Ganjar, PSI dukung Ganjar juga. Saat ini kalau Jokowi merestui KIB dan KIR yang bergabung sebagai koalisi besar, maka saya tidak aneh kalau PSI juga masuk," ucap Ujang, Kamis (6/4/2023).

"Saya melihat langkah taktis dan pragmatisnya, PSI saja yang memang selalu ingin bersama Jokowi dan ingin ada dalam koalisi pemerintahan. karena, kalau dengan PDIP itu enggak cocok berantem terus antara PDIP dan PSI," tambah Ujang.

Baca juga: Gabung Koalisi Besar, PSI Tegaskan Tetap Dukung Ganjar Pranowo Maju Pilpres 2024

Sedangkan, menurut Ujang jika bergabung dengan Koalisi Perubahan juga tidak cocok.

Sebab, Koalisi Perubahan mengusung Anies Baswedan sebagai Calon Presiden (Capres) pada Pemilu 2024 mendatang.

"Kalau dengan Koalisi Perubahan enggak mungkin juga, karena PSI enggak pro Anies. Maka salah satu solusi bagi PSI, ya mendukung KIB dan KIR itu konstruksi politik PSI sangat sederhana sudah bisa dibaca sama saya dari dulu terkait gerakan politik PSI," jelas dia.

Ujang menilai wacana terbentuknya Koalisi Besar yang di dalamnya terdapat KIB dan KKIR karena penolakan PDIP atas kebijakan Presiden Jokowi soal penyelenggaraan Piala Dunia U-20 yang berakhir batal di Indonesia.

"Langkah perjalanan KIB dan KIR ini terbentuk karena penolakan PDIP ya atas kebijakan Jokowi yaitu penyelenggaraan U-20 dan itu menjadi batal itu sudah menampar Jokowi. PDIP partainya sendiri, rumahnya sendiri, partai pengusung Pilpres lalu koalisi pemerintah tetapi kok menolak dan melawan Jokowi," ungkap dia.

Baca juga: Gabung Koalisi Besar Jokowi, PSI Temui Airlangga Hartarto Pekan Depan

"Secara tidak langsung sudah mengkudeta Jokowi secara sipil. oleh karena itu, 5 partai koalisi pemerintahan Jokowi yang ada di KIB dan KIR digabungkan dan dibentuk koalisi besar agar Jokowi juga punya pertahanan dan kekuatan," jelas Ujang.

Menurutnya, Koalisi Besar nanti akan dinahkodai oleh Jokowi dan kelima partai tersebut sebagai pemainnya.

"Prabowo Subianto sudah mengatakan saat wawancara di DPP PAN beberapa hari lalu, bahwa kami adalah timnya Jokowi. Artinya, memang Jokowi yang mengendalikan ketua timnya. Maka yang lain itu kelima partai yang tergabung dalam KIB dan KIR adalah pemainnya," ucapnya.

Ujang menyebut Koalisi Besar akan resmi terbentuk usai PDIP mengumumkan capres atau cawapres yang diusungnya.

"Tergantung Jokowi juga nasib koalisi besar ini. konstruksi politik di PDIP juga. PDIP mengusung Ganjar kah, Puan kah, bagaimana langkah berikutnya. Koalisi Besar itu diketahui ya ketika Megawati sudah mengumumkan Capresnya. Jadi Koalisi Besar itu sebagai antisipasi dari PDIP yang dianggap Jokowi sudah keluar dari jalur karena partai pemerintah kok menolak pemerintah," paparnya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved