Gempa Bumi

Cerita Relawan Mahasiswa Bantu Atasi Trauma Anak-anak Korban Gempa Bumi di Cianjur

Relawan dari Universitas Esa Unggul membangun kisah fiktif untuk mengatasi rasa trauma anak-anak yang menjadi korban gempa bumi di Kabupaten Cianjur. 

Penulis: Cahya Nugraha | Editor: Junianto Hamonangan
Warta Kota/Cahya Nugraha
Relawan dari Universitas Esa Unggul membangun kisah fiktif untuk mengatasi rasa trauma anak-anak yang menjadi korban gempa bumi di Kabupaten Cianjur.  

WARTAKOTALIVE.COM, CIANJUR - Ada kisah menarik tepatnya di pengungsian Tunggilis, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. 

Relawan dari Universitas Esa Unggul, Jakarta membangun kisah fiktif untuk para anak yang menjadi korban gempa di Kabupaten Cianjur. 

Hal itu dilakukannya bukan tanpa alasan, sebab trauma yang mendalam akibat gempa bukan saja dirasakan oleh orang dewasa namun juga kepada anak-anak, ditambah lagi dengan adanya gempa susulan yang masih sering terjadi hingga hari ini Kamis (1/12/2022) di wilayah Kabupaten Cianjur. 

"Melihat orangtuanya histeris saat terjadi gempa susulan, para anak ini juga takut yang kita khawatirkan justru ini akan memiliki dampak trauma yang panjang," ungkap Relawan Mahasiswa yang berfokus pada Psikologi, Dandiri. 

Dandiri menceritakan kepada anak-anak di pengunsian bahwa ada raksasa di tanah Cianjur ini yang bernama Agus.

Baca juga: Detik-detik Jelang Gempa Bumi di Cianjur, Ada Gemuruh Bayangan Hitam dan Angin Puting Beliung

"Bentuknya menyerupai gunung, tubuhnya ditumbuhi pepohonan dan berumur 5 ribu tahun. Saat ini dia sedang tertidur, waktu tertidur ia digigit nyamuk dan dia memukul tangannya sendiri, (layaknya manusia ketika digigit nyamuk) itu adalah gempa pertama," ungkap Dandiri mengisahkan. 

Ia menambahkan setelah digigit nyamuk, reaksi tubuh Agus yang besar mengalami benjolan gatal.

"Setiap gatalan itu ia menggaruk, itu adalah gempa susulan yang kita analogikan bentol di tubuh Agus belum sembuh," ungkapnya

Hal menarik lainnya adalah, saat ini ketika gempa susulan kembali dirasakan, anak-anak di pengungsian akan berteriak "Agus gatal, Agus gatal,".

"Artinyaa treatment ini berhasil kita tanam, sehingga anak di pengungsian sudah tidak takut lagi akan gempa,"jelas Dandiri. 

Baca juga: Terdampak Gempa Bumi di Cianjur, Pengungsi di Desa Sarampad Kekurangan Air Bersih

Ini merupakan langkah awal bagi Dandiri untuk terus melakukan treatment kepada anak-anak agar mereka pulih dari traumanya. 

"Karena kita sudah masuk di alam bawah sadarnya, saat ini fokusnya adalah tindakan apa yang harus kita lakukan saat gempa terjadi untuk menyelamatkan diri," jelasnya. 

karena keterbatasan alat yang ada, dirinya menggunakan tas, matras dan bantal untuk mengajari bagaimana reflek melindungi bagaian kepala saat terjadinya gempa. 

"Kita siapin beberapa barang yang dapat mereka gunakan dalam simulasi seperti tas, matras, bantal dan lainnya. Kita coba tanamkan lagi ke alam bawah sadar mereka untuk kondisi seperti ini (gempa) mereka harus melindungi bagian kepala terlebih dahulu," kata Dandiri. 

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved