Polisi Tembak Polisi

Surat Izin Senjata Api Brigadir J dan Bharada E Tidak Layak, Tapi Ferdy Sambo Paksa Dibikinkan

Surat izin senjata api Bharada E dan Brigadir J ternyata tidak sesuai prosedur, namun dikeluarkan juga karena intervensi Ferdy Sambo

Penulis: Nurmahadi | Editor: Budi Sam Law Malau
Istimewa
Bharada Richard Eliezer alias Bharada E hingga kini masih dihantui rasa penyesalan soal kematian Brigadir J. Terungkap di persidangan Surat izin senjata api Bharada E dan Brigadir J ternyata tidak sesuai prosedur, namun dikeluarkan juga karena intervensi Ferdy Sambo 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Kepala Urusan Logistik Pelayanan Masyarakat Polri, Linggom Parasian memberikan kesaksian soal surat izin membawa senjata api Bharada Richard Eliezer atau Bharada E dan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Dalam keterangan di persidangan pembunuhan Brigadir J dengan terdakawa Bharada E, Ricky Rizal serta Kuat Ma'ruf di PN Jakarta Selatan, Senin (28/11/2022), Linggom mengatakan ia ditugaskan oleh Kayanma Polri Kombes Hari Nugroho untuk membuatkan Surat Membawa Senjata Api (SIMSA) bagi Bharada E dan Brigadir J.

Akan tetapi, surat tersebut ditolak oleh Kayanma karena tak ada tes psikologi, satker hingga surat dokter sehingga syarat dan prosedurnya tidak lengkap.

Awalnya, Majelis Hakim menanyakan Linggom soal kaitan dia dengan kasus pembunuhan berencana Brigadir J dalam sidang.

"Kaitannya adalah saya yang mengeluarkan surat izin memegang dan menggunakan senjata api dari Bharada Eliezer dan almarhum Brigadir Yosua," kata Linggom

"Saudara yang mengeluarkan izin senjata Eliezer dan Yosua," tanya Majelis Hakim.

Baca juga: AKBP Arif Rachman Sebut Brigadir J Pakai Kaos Merah Saat Dibunuh Bukan Putih

"Siap, atas perintah dari Bapak Kayanma, saat itu Kombes Hari Nugroho," jawab Linggom

"Kalau saudara Richard surat izin senjata apa yang saudara keluarkan," tanya hakim kembali.

"Izin menjelaskan yang mulia. Pada waktu bulan Desember kalau tak salah tanggal 15 tahun 2021 saya dipanggil Kayanma ke ruangan beliau. Di dalam ruangan, beliau menyerahkan satu lembar kertas. Isinya sudah tertulis atas nama Brigadir Yosua dan Bharada Eliezer. Bapak Kayanma perintahkan saya, 'tolong kamu buatkan SIMSA-nya (Surat Izin Membawa Senjata Api). Saya tunggu sekarang'," papar Linggom.

Baca juga: AKBP Arif Rachman Akui Hapus Foto Hasil Autopsi Jenazah Brigadir J yang Tunjukkan 7 Luka

Akan tetapi surat yang dibuat Linggom tak diterima Kayanma karena prosedurnya tidak lengkap.

"Besok harinya Pak Kayanma memanggil saya, 'ini surat senjata apinya kamu simpan kembali karena prosedurnya tidak lengkap. Tidak ada tes psikologi, tidak ada pengantar satker, dan tidak ada surat keterangan dokter," kata Linggom menirukan ucapan Kayanma.

Empat hari kemudian lanjut Linggom, ia kembali dihubungi oleh Kayanma untuk menurunkan surat izin membawa senjata api Brigadir J dan Bharada E.

Usai dibuatkan surat izin tersebut, Kombes Hari Nugroho berbicara kepadanya bahwa ia baru saja di telepon oleh Ferdy Sambo agar segera menanda tangani surat izin membawa senjata api untuk Brigadir J dan Bharada E.

Baca juga: Pistol untuk Bunuh Brigadir J Ditunjukkan di Sidang Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi

"Setelah Pak Kayanma terima, langsung beliau berbicara kepada saya 'barusan saya ditelpon Kadiv Propam Pak Sambo agar segera tanda tangan'. setelah itu saya serahkan," ujar Linggom.

Linggom kemudian menjelaskan, prosedur untuk mengeluarkan surat izin senjata api, itu wajib ada surat keterangan dari satker, kemudian surat keterangan lulus tes psikologi, serta surat keterangan sehat dari dokter.

Lalu Hakim kembali bertanya soal senjata jenis apa yang dipegang Brigadir J dan Bharada E.

"Saudara ingat senjata apa yang dipegang Eliezer dan Yosua," tanya Hakim.

"Yang tertulis di kertas itu untuk Bharada Eliezer jenis Glock, Kemudian untuk Brigadir Yosua jenis HS," jawab Linggom. (m41)

 
 
 
 

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved