Pandemi Virus Corona

Pedagang Pasar Mampang Bangkrut, Menaruh Asa Pemerintah Segera Bantu, Dampak Pandemi Virus Corona

Dampak pandemi virus corona hingga kini masih terasa, seperti di Pasar Mampang. Mayoritas pedagang sudah bangkrut.

Penulis: Nurmahadi | Editor: Valentino Verry
warta kota/nurmahadi
Kios di Pasar Mampang banyak yang tutup, Minggu (20/11/2022). Hal ini dampak dari pandemi virus corona yang belum juga beres. Kini, pedagang pada bangkrut. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Para pedagang di pasar Mampang, Jakarta Selatan terpaksa gulung tikar karena sepi pembeli semenjak pandemi virus corona.

Pantauan Wartakotalive.com di lokasi, Minggu (20/11/2022) nampak kios-kios di pasar Mampang tutup ditinggal para pedagang.

Hanya ada beberapa toko yang masih bertahan di pasar Mampang seperti perajin konveksi, pedagang baju, pedagang emas, pedagang perabotan rumah tangga dan pedagang jam.

Hendry (50), pedagang jam, mengatakan tak hanya pandemi virus corona, kenaikan harga BBM pun jadi penyebab Pasar Mampang sepi pembeli.

“Efek yang menyebabkan Pasar Mampang ini menjadi sepi salah satunya ialah pandemi yang cukup lama dan kenaikan harga BBM,” ujarnya.

Terhitung, hanya ada dua hingga tiga orang yang nampak berlalu lalang di pasar ini untuk membeli barang setiap harinya.

Baca juga: Imbas dari Kenaikan Harga BBM, Jumlah Pelanggan Transjakarta Mengalami Peningkatan hingga 10 Persen

“Untuk pembeli saat ini sudah berkurang sangat banyak, cukup jauh dari sebelumnya, ya pembeli per-hari paling satu sampai tiga orang saja karena faktor ekonomi konsumen juga ya,” ujarnya.

Hendry mengatakan, akibat sepinya pembeli di Pasar Mampang ini, membuat pendapatannya berkurang hingga 70 persen

Alhasil, para pedagang yang tak sanggup membayar kios, terpaksa gulung tikar atau mencari kios lain yang harganya lebih terjangkau.

Baca juga: Guntur Soekarnoputra Ungkap Unek-unek, Sulit Ketemu Megawati Sejak Pandemi Virus Corona

Menurut Hendry, untuk biaya sewa kios di Pasar Mampang sangat bervariasi.

Jika posisi di depan, bisa mencapai Rp 10 juta sampai Rp 15 juta, sedangkan yang di dalam sekitar Rp 4 juta hingga Rp 6 juta per tahun.

Hendry yang saat ini menginjak usia 50 tahun, berharap pemerintah bisa menghidupkan kembali Pasar Mampang agar ramai pembeli seperti sebelumnya.

“Harapan saya untuk Pasar Mampang ini supaya dihidupkan kembali dan dipromosikan supaya bisa menarik pengunjung seperti semula," ucapnya.

"Di sini banyak tempat yang kosong supaya dijadikan tempat makan untuk orang kantor yang berada di sekitar sini,” imbuhnya.

Pedagang sembako di Pasar Mampang lesu.
Pedagang sembako di Pasar Mampang lesu. (Warta Kota/adhy kelana)

Dia sangat berharap bantuan dari pemerintah untuk meringankan bebannya, dan sampai saat ini Hendry hanya di data dan tidak mendapat bantuan apa-apa dari pemerintah.

“Saya mengharapkan bantuan dari pemerintah, sebelumnya hanya di data-data oleh Pemda DKI Jakarta dan bantuan itu tidak kunjung datang atau tidak dapat bantuan atau keringanan,” ujarnya.

Pendapatannya sebelum pandemi, dalam satu hari sekitar Rp 1 juta, tetapi setelah tandemi, Hendry hanya bisa mendapatkan uang Rp 60-70 ribu, bahkan tidak mendapatkan uang sama sekali.

 

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved