Gangguan Ginjal Akut

Kasus Gangguan Ginjal Akut Tidak 100 Persen Disebabkan Cemaran Zat Berbahaya, Ada Penyebab Lainnya

Ia memaparkan, selain obat, ada beberapa penyebab gangguan ginjal akut pada anak.

Editor: Yaspen Martinus
Tangkapan video youtube sekretariat presiden, kompastv
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kasus gangguan ginjal akut pada anak di Indonesia, disebabkan cemaran zat berbahaya Etilen Glikol (EG), Dietilen Glikol (DEG), dan Etilen Glikol Butil Ether (EGBE) yang melebihi ambang batas, pada obat sirop. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kasus gangguan ginjal akut pada anak di Indonesia, disebabkan cemaran zat berbahaya Etilen Glikol (EG), Dietilen Glikol (DEG), dan Etilen Glikol Butil Ether (EGBE) yang melebihi ambang batas, pada obat sirop.

Sebelumnya, Kemenkes telah meneliti dan menemukan ada tiga zat kimia berbahaya itu pada ginjal pasien gangguan ginjal akut.

"Faktor risiko terbesar dari terjadinya acute kidney injury/AKI adalah karena adanya senyawa EG dan DEG yang melebihi dari standar yang diminum oleh anak-anak."

"Kami juga bilang bahwa enggak 100 persen, karena ada penyebab lainnya juga," kata Budi saat rapat dengar pendapat bersama Komisi IX DPR, Rabu (2/11/2022).

Ia memaparkan, selain obat, ada beberapa penyebab gangguan ginjal akut pada anak.

Pertama dari infeksi. Kedua, bisa dari kelainan kongenital atau genetik. Ketiga, bisa jadi karena dehidrasi berat, maupun bisa juga karena kehilangan darah.

Baca juga: Hari Ini KPK Periksa Lukas Enembe di Papua, Firli Bahuri Dijadwalkan Hadir

Gangguan ginjal akut, kata Budi, bukan penyakit baru. Namun, tidak pernah ada peningkatan kematian drastis seperti yang terjadi pada September dan Oktober lalu.

"Dua tahun yang lalu, tiga tahun lalu selalu terjadi, tapi karena memang jumlahnya tidak besar, ini menjadi insiden-sinden yang memang sama seperti penyakit lain," ujar mantan Wamen BUMN ini.

Karena itulah, pihaknya menerbitkan Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan per 18 Oktober 2022, yang meminta tenaga kesehatan dan apotik tidak memberikan obat dalam bentuk sirop kepada masyarakat.

Baca juga: Partai Perindo Empat Besar di Kalangan Gen Z, Hary Tanoe: Generasi Muda Tentukan Masa Depan Bangsa

Kebijakan antisipatif terus dilakukan Kementerian Kesehatan dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat GGAPA di Indonesia.

Jumlah total kasus gagal ginjal akut di Indonesia mencapai 325 kasus per Selasa (1/11/2022), dengan total angka kematian akibat gagal ginjal akut sebanyak 178 orang atau 54 persen (fatality rate). (Rina Ayu)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved